Kamis, 27 Oktober 2011




Sang Profesor Do'a


BIOGRAFI MU’ALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH

I. Kelahiran dan masa Kanak-kanak

KH. Abdul Madjid QS. Wa RA. Lahir dari pernikahan Syekh Mohammad Ma’roef pendiri pondok pesantren Kedunglo dengan Nyai Hasanah putri Kyai Sholeh Banjar Melati Kediri.

KH. Abdul Madjid QS. Wa RA, lahir pada hari Jum’at Wage malam 29 Ramadhan 1337 H atau 20 Oktober 1918 sebagai putra ke tujuh dari sembilan bersaudara. Beliau lahir di tengah pesantren yang luas dan sepi dikelilingi rawa-rawa dengan jumlah santri yang tidak pernah lebih dari empat puluh orang yaitu KEDUNGLO.

Ketika masih baru berusia dua tahun oleh bapak ibunya, beliau dibawa pergi haji ke Mekkah Al Mukaromah. Di Mekkah, setiap memasuki jam dua belas malam Kyai Ma’roef selalu menggendong beliau ke Baitulloh dibawah Talang Mas. Di sana Kyai Ma’roef berdoa agar bayi yang berada dalam gendongannya kelak menjadi orang besar yang sholeh hatinya. Begitu juga di tampat-tempat mustajabah lainnya. Kyai Ma’roef selalu mendoakan beliau agar menjadi orang yang sholeh.

Konon selama berada di Mekkah, beliau juga di khitan disana dan akan diambil anak oleh salah seorang ulama Arab dan disetujui oleh Kyai Ma’roef, tatapi Nyai Hasanah keberatan sehingga beliau tetap dalam asuhan kedua orang tuanya.

Cerita bahwa beliau akan diangkat sebagai anak oleh ulama Mekkah memunculkan sebuah ungkapan “Kalau bukan karena Kyai Madjid maka Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir, dan kalau bukan karena Nyai Hasanah Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir di bumi Kedunglo”.

Sepulang dari Mekkah, muncul kebiasaan unik pada diri beliau, Beliau yang masih dalam usia tiga tahun (balita), hampir di setiap kesempatan berkata, “Qul dawuha siro Muhammad” sambil meletakkan kedua tangannya diatas kepala. Kebiasaan semacam itu terus berlangsung hingga beliau memasuki usia tujuh tahun.

Kebiasaan lain beliau semasa kanak-kanak adalah suka menyendiri, kurang suka bergaul dan sangat pendiam, beliau hanya mau bermain dengan mbak Ayunya Romlah dan mbak Ayunya ini pula yang mengajari beliau baca tulis Al qur’an untuk pertama kali.

Sifat pendiam dan tidak suka memamerkan keistimewaan yang dimiliki terus dibawa beliau hingga memasuki usia remaja. Karena sifat pendiam beliau inilah hingga tidak ada yang tahu keistimewaan-keistimewaan beliau di masa kanak-kanak dan remajanya.

Walaupun secara lahiriyah tidak tampak istimewa dibanding dengan Gus Malik adiknya yang pandai dan sering menampakkan kekeramatannya. Dan Gus Malik pula yang bertindak sebagai wakil ayahnya apabila Kyai Ma’roef tidak ada atau sedang berhalangan, hingga tidak sedikit yang menyangka bahwa Gus Malik lah calon penerus Kyai Ma’roef. Akan tetapi pada hakikatnya, Kyai Ma’roef telah mempersiapkan Agus Madjid sebagai penggantinya sejak beliau baru di lahirkan. Terbukti, meski masih berusia dua tahun, ayahnya telah membawa pergi haji. Padahal kita semua tahu bagaimana kondisi transportasi dan akomodasi jamaah haji di tahun 1920-an. Sungguh sulit, penuh rintangan dan melelahkan belum lagi kondisi cuaca alam tanah Arab yang berbeda jauh dari kondisi di Indonesia, dan itu ditempuh berbulan-bulan lamanya.

Bukti lain bahwa beliau dipersiapkan sebagai calon pengganti ayahnya, adalah setiap mendekati bulan haji. Kyai Ma’roef selalu kedatangan tamu dari kalangan Sayyid dan Sayyidah dari jazirah Arab. Saat itulah, sambil menggendong Agus Madjid, Nyai Hasanah berkata kepada tamunya,”Niki ndoro Sayyid yugo kulo njenengan suwuk, dados tiyang ingkang sholeh atine.” (ini tuan Sayyid, doakan anak saya agar menjadi orang yang sholeh hatinya).

Pernah suatu hari saat Kyai Ma’roef sedang bepergian, datang seorang Habib hendak bersilahturrahmi. Karena Kyai Ma’roef tidak ada, si tamu minta dipanggilkan Agus Madjid katanya mau didoakan. Karena Agus Madjid sedang bermain dan belum mandi, maka abdi dalem membawa Gus Malik yang sudah rapi untuk menemui tamu tersebut. “Wah, ini bukan Agus Madjid, tolong bawa Agus Madjid kemari!” kata si habib kepada abdi dalem.

II. Pada Masa Remaja

Memasuki usia sekolah, beliau sekolah di Madrasah Ibtida’iyah namun hanya sampai kelas dua. Selanjutnya, Kyai Ma’roef mengantar beliau mondok ke Jamsaren Solo pada Kyai Abu Amar. Genap tujuh hari di Jamsaren. Beliau dipanggil gurunya disuruh kembali ke Kedunglo “Wis Gus panjenengan kondur!”, sambil dititipi surat agar disampaikan kepada ayahnya. Beliau menuruti perintah Kyai Abu Amar meski dengan pikiran penuh tanda tanya kembali ke Kediri. Setiba di rumah, ternyata ayahnya yang mengantarkan beliau mondok masih belum kembali sementara yang diantarkan sudah kembali.

Terdorong akan jiwa muda yang ingin menimba ilmu pengetahuan. Beliau kemudian mondok ke Mojosari Loceret Nganjuk. Namun setelah hari ke tujuh beliau dipanggil Kyai Zainudin gurunya. “Gus sampeyan sampun cukup, mboten usah mondok kundor mawon, wonten dalem kemawon”. (Gus anda sudah cukup, tidak usah mondok pulang saja, di rumah saja). Beliau pun kembali pulang ke Kediri dan matur kepada ayahnya kalau gurunya tidak bersedia memberinya pelajaran.

“Wis kowe tak wulang dewe, sak wulan podho karo sewu wulan”. (Kalau begitu kamu saya ajari sendiri, satu bulan sama dengan seribu bulan). Ujar Kyai Ma’roef.

Maka setelah empat belas hari mondok di Jamsaren dan Mojosari, gurunya adalah ayahnya sendiri Kyai Ma’roef yang telah mewarisi ilmu Kyai Kholil dari Bangkalan. Oleh ayahnya setiap selesai sholat Maghrib beliau diajari aneka macam ilmu yang diajarkan dipondok pesantren maupun ilmu yang tidak diajarkan di pondok pesantren. Sehingga Kyai Ma’roef pernah berkata kepada adik Gus Madjid “Madjid itu tidak kalah dengan anak pondokan”.

Tak heran kalau pada akhirnya beliau tumbuh sebagai pemuda yang sangat alim dan wara’. Ibarat padi semakin tinggi ilmunya beliau semakin tawadhu dan pendiam sehingga siapapun tidak pernah menyangka kalau di balik kediamannya tersimpan segudang ilmu pengetahuan dan sejuta keistimewaan. Tapi, itulah keistimewaan beliau yang tidak pernah menunjukkan keistimewaan dan karomah-karomahnya kepada sesamanya.

III. Masa Dewasa

a. Pernikahan

Ketika berusia 27 tahun dan hampir menguasai seluruh ilmu ayahnya, beliau semakin tampak dewasa dan matang. Tidaklah heran jika banyak gadis yang mengidamkan beliau. Karena disamping beliau dikenal sebagai putra kyai yang masyur dan makbul doanya, beliau adalah sosok pemuda alim berwajah tampan nan rupawan bagaikan rembulan.

Namun dari sekian gadis, pitri-putri yang mendambakan dipersunting beliau, akhirnya pilihannya jatuh pada gadis bernama Shofiyah yang baru berusia 16 tahun putri K. Moh. Hamzah dengan Umi Kulsum, buyut KH. Mansyur pendiri kota Tulung Agung yang mendapat tanah perdikan dari Sultan Hamengkubuwono II karena telah berhasil mengeringkan sumber Tulung Agung dan kini menjadi alun-alun kota Tulung Agung.

Semula, beliau dijodohkan dengan sepupunya sendiri yaitu “Nyai Zainap” putri KH. Abdul Karim Manaf dari Lirboyo (yang akhirnya dinikahi oleh KH. Mahrus Lirboyo). Tetapi saat ditawari akan dinikahkan dengan saudara sepupunya yang cantik dan pintar itu beliau hanya diam saja. Meski tidak mendapat jawaban yang pasti dari beliau, antar pihak Kedunglo dan Lirboyo sepakat akan menikahkan keduanya.

Kemudian diselenggarakan upacara akad nikah putra dan putri kyai yang masih kerabat dekat dan sama-sama pernah menjadi santri Kyai Kholil Bangkalan ini, dengan menyembelih lima ekor kambing.

Tetapi entah kenapa, ketika Pak Naib meng-akid, calon pengantin putra hanya diam saja tidak menjawab. Berkali-kali Pak Naib mengucapakan ijab tetapi tidak mendapat jawaban qobul dari Agus Madjid. Maka mengertilah bahwa beliau tidak mau dinikahkan dengan Nyai Zainab saudara sepupunya tersebut.

Setelah pernikahan antar kerabat tersebut batal, beliau ditawari kembang dari Tawangsari kota Tulung Agung oleh Yusuf santri ayahya yang tidak lain adalah paman si gadis. Beliau setuju dan melihat si gadis tersebut sedang memetik beberapa kuntum bunga Melati dari balik jendela di bawah menara masjid. Si gadis itu tidak lain adalah Nyai Shofiyah putri ke tujuh dari dua belas bersaudara.

Pernikahan antara Kyai Abdul Madjid dengan Nyai Shofiyah dikaruniai empat belas anak, yaitu : Ning Unsiyati (Almh), Ning Nurul Isma, Ning Khuriyah(Almh), Ning Tatik Farikhah, Agus Abdul Latif, Agus Abdul Hamid, Ning Fauziah(Almh), Ning Djauharotul Maknunah, Ning Istiqomah, Agus Moh.Hasyim Asy’ari(Alm), Ning Tutik Indiyah, Agus Syafi Wahidi Sunaryo, Ning Khuswatun Nihayah dan Ning Zaidatun Inayah.

b. Kepribadian dan Kehidupan Berumah Tangga

Beliau mempunyai kepribadian yang sangat mempesona. Menurut penuturan orang-orang yang hidup sejaman beliau, akhlak Mbah Yahi Abdul Madjid QS wa RA adalah biakhlaqi Rasulillah. Berbadan sedang dengan warna kulit putih bersih. Berhidung mancung agak tumpul dan berbibir bagus agak lebar dengan garis bibir tidak jelas yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai tingkat kesabaran yang luar biasa. Matanya cekung dengan kelopak dan pelipis mata ke dalam bak gua menunjukkan bahwa beluai seorang yang mempunyai pemikiran yang tajam dan dalam. Di antara kedua matanya terdapat urat halus dan lurus sebagai pertanda beliau Mbah Yahi Madjid mempunyai otak briliyan. Tangannya halus dan lembut selembut hatinya yang pemaaf. Kalau berjalan beliau melangkah dengan pelan tapi pasti dengan sorot mata mengarah kebawah. Terkadang beliau juga menoleh ke kanan/ke kiri untuk melihat situasi dan keadaan jamaah.

Kalau bicara tenang dan santai disertai senyum, beliau juga sering melontarkan kalimat-kalimat canda yang membuat beliau dan tamunya tertawa. Beliau juga bebicara dengan jawami’ kalam, artinya kata-kata yang dituturkannya mengandung makna yang banyak, karena beliau mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan ringkas dan padat. Beliau juga mampu memberikan makna yang banyak dalam satu ucapan yang dituturkannya. Beliau juga mengucapkan kata-kata dengan jelas, tidak lebih dan tidak kurang dari yang dikehendaki. Beliau memperhatikan sungguh-sungguh kepada orang yang berbicara dengannya.

Disamping itu beliau dikenal sangat dermawan. Tak jarang tamunya yang sowan dan tampak tidak punya ongkos buat pulang diberi ongkos oleh beliau. Pernah juga beliau memberi belanja kepada seorang pengamal yang tidak punya penghasilan. Ada pula seorang pengamal yang ingin tahu keramatnya beliau, ketika si tamu pamit pulang beliau memberikan jubahnya kepada si tamu tersebut.

Beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian badannya. Baju yang telah dipakai sekali tidak di pakai lagi. Karena tidak heran kalau beliau sering mencuci pakaiannya sendiri bahkan juga menguras jedingnya sendiri. Dalam masalah ini beliau pernah mengungkapkan rumah itu hendaknya suci seperti masjid dan bersih seperti rumah sakit.

Bila marah, beliau Cuma diam. Hanya roman mukanya yang sedikit berubah. Kalau beliau mau berbicara pertanda bahwa marahnya sudah hilang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Perihal marah ini Mbah Nyahi sebagai orang terdekat yang telah menemani beliau lebih dari 40 tahun menuturkan. “Kalau beliau kurang berkenan kepada saya, atau ada kesalahan yang telah saya lakukan tetapi saya kurang menyadarinya, beliau hanya diam saja dengan roman muka sedikit berubah tidak seperti biasanya. Kalau Mbah Yahi sudah demikian, saya bingung dan sedih sekali. Begitu besarkah kesalahan saya di mata beliau? kemudian satu persatu saya koreksi kesalahan apa yang telah saya lakukan sehingga beliau tidak menegur saya. Semakin saya koreksi, saya merasakan terlalu banyak kesalahan yang telah saya perbuat sehingga saya tidak tahu dimana letak kesalahan saya sendiri. Namun itu tidak berlangsung lama, sebentar kemudian beliau menegur saya dan selanjutnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”

Dari sini kita tahu bahwa kehidupan rumah tangga beliau jauh dari perselisihan dan tidak pernah terjadi pertengkaran. Kalaupun ada kesalahan yang telah dilakukan, masing-masing sibuk mengkoreksi kesalahannya sendiri. Itulah Mbah Yahi, yang sering berfatwa agar para pengamal lebih sering “nggrayahi jithoke dewe” (mengoreksi kesalahannya sendiri), ketimbang mengurusi kesalahan orang lain dan ternyata lebih dulu diterapkan pada keluarga beliau.

Kehidupan rumah tangga beliau adalah potret kehidupan rumah tangga harmonis dan sangat bahagia. Sebagai suami, beliau adalah sosok suami yang romantis, amat setia, mencintai dan menyayangi istri sepenuh hati. Meski sebagai putra kyai, beliau tidak segan-segan menghibur istrinya dengan mengajak menonton pasar malam seraya menggandeng tangan Mbah Nyahi bahkan beliau juga menggendong Mbah Nyahi apabila menjumpai jalan yang licin atau kubangan-kubangan di tengah jalan. “Kalau kami jalan berdua, Mbah Yahi itu tidak pernah melepaskan tangan saya. Beliau selalu menggandeng tangan saya. Kemana-mana selalu kami lakukan berdua. Bahkan untuk mencari hutangan kalau kami tidak punya uang, kami mencari bersama-sama”. Tutur Mbah Nyahi saat menceritakan kemesraan Mbah Yahi.

Dalam kehidupan sehari-hari Mbah Yahi Madjid QS wa RA, sebagaimana yang dikatakan Mbah Nyahi RA, beliau adalah manusia biasa seperti manusia lainnya. Beliau mencuci baju sendiri dan kerap kali mencucikan baju Mbah Nyahi atau baju putra-putrinya yang tertinggal di kamar mandi pribadi beliau. Beliau selalu membantu Mbah Nyahi menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Kalau Mbah Nyahi akan memasak sayur santan, beliau yang memarut kelapanya dan Mbah Nyahi yang membuat bumbunya. Beliau juga membantu mengasuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil, memandikan, mendandani bahkan menyuapi.

Kalau persediaan padi hasil panenan habis, beliau memanen sayuran kangkung yang beliau tanam sendiri, lalu di jual ke pasar oleh Mbah Nyahi untuk dibelikan beras. Tak jarang beliau sekeluarga hanya makan sayur kangkung saja. Dalam kehidupan rumah tangga Mbah Yahi dulu, tidak mempunyai apa-apa sama sekali sudah biasa. Dan kondisi semacam itu diterima dengan tabah, sabar dan ikhlas oleh Mbah Nyahi.

Melihat kondisi Mbah Yahi sekeluarga yang sangat sederhana dan apa adanya tersebut. Pak Haji Alwan merasa kasihan dan berkata kepada Mbah Yahi, “Romo Kyai Ma’roef itu orangnya ampuh dan apa-apa yang beliau inginkan, Kyai Ma’roef tinggal berdo’a mohon keapada Allah langsung diijabahi”. Tapi apa jawab Mbah Yahi.

“Pak Haji Alwan, kalau bapak dulu dengan berdoa langsung diijabahi oleh Allah, sedangkan saya ndak usah berdoa, hanya krenteg(terbetik) dalam hati saja langsung diijabahi oleh Allah, tapi saya tidak mau”.

Jawaban Mbah Yahi QS wa RA di atas mengingatkan kita kepada Rasulullah SAW, saat Malaikat Jibril merasa sangat prihatin menyaksikan kehidupan harian Rasulullah makhluk terkasih di sisi Allah yang hidup sangat sederhana, sehingga Malaikat Jibril menawari Rasulullah hendak mengubah gunung menjadi emas. “Biarlah saya begini, sehari lapar sehari kenyang. Ketika aku lapar , aku bisa mengingat Tuhanku dan menjadi orang yang sabar. Dan ketika aku kenyang, aku bisa memuji Tuhanku dan menjadi hamba yang bersyukur”. Itulah jawaban manusia termulia di muka bumi ini.

Dalam menerima tamu beliau juga tidak pilih-pilih atau tanpa pandang bulu, baik itu dari kalangan atas atau sebaliknya, beliau selalu menerima dan menghormati tamu yang datang kepada beliau dengan memperlakukan para tamu dengan baik dan bertutur kata dengan bahasa yang halus (boso/dengan krama inggil bahasa jawa).

Mbah Yahi QS wa RA pada awal-awal penciptaan Sholawat Wahidiyah, senantiasa prihatin. Beliau prihatin karena urusan-urusan penting yang sedang dihadapinya. Keprihatinan beliau bukanlah berkaitan dengan masalah khusus mengenai diri beliau, melainkan yang berhubungan dengan masyarakat jami’al alamin.

Hal lain mengenai beliau adalah setiap orang yang memandang beliau akan merasakan kesejukan yang merasuk ke dalam hati. Dan siapapun yang beliau pandang hatinya pasti bergetar.

c. Aktivitas Keorganisasian

Sebelum mentaklif Sholawat Wahidiyah beliau adalah adalah aktifis NU (Nahdatul Ulama) sebuah organisasi terbesar di Indonesia. Ketika usia remaja beliau aktif di Anshor dan di Kepanduan (sekarang Pramuka) milik NU. Beliau juga gemar berolah raga khususnya sepak bola. Jadi meskipun beliau telihat sangat pendiam dan nampak kurang pergaulan, tetapi kenyataannya beliau adalah seorang yang luwes dalam pergaulan. Keaktifannya di NU terus berlanjut meski beliau sudah menikah. Beliau pernah menjabat sebagai Pimpinan Syuriah NU kec. Mojoroto tahun 1948 dan Syuriah NU cabang Kodya Kediri. Namun setelah beliau mentaklif Sholawat Wahidiyah dan ajarannya tahun 1963 beliau tidak lagi aktif di organisasi tersebut.

Dalam memimpin organisasi beliau juga sangat bijaksana, pernah suatu saat diadakan rapat pimpinan di Bandar Lor, yang hadir ada lima orang dan salah satu di antaranya adalah Bapak Alwi Bandar Lor. Dalam rapat tersebut beliau mendawuhkan “Nopo sampun podo setuju?”(apa semua sudah setuju?) lalu para tamu mengatakan setuju kemudian diam, lalu beliau berkata “Terus kados pundi?” (Lalu bagaimana?) dan anehnya untuk tinggal mengetok atau mengakhiri sampai lama sekali , sehingga dapat disimpulkan bahwa beliau dalam memutuskan hasil musyawarah tidak langsung memvonis tetapi dengan menunggu pendapat dari anggota musyawarah.

IV. Peristiwa-Peristiwa Penting Pada Awal Penyiaran Sholawat Wahidiyah

Pada Tahun 1964, Mbah Yahi menyelenggarakan resepsi ULTAH sholawat Wahidiyah yang Pertama dan disebut EKAWARSA sekaligus khitanan Agus Abdul Hamid dan selapan harinya Ning Tutik Indiyah dengan mengundang Pembesar Ulama dari berbagai daerah di Jawa Timur, disamping keluarga dan kaum muslimin lainnya. Hadir sebagai tamu antara lain : KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rois “Am Nahdhatul Ulama dan pengasuh Pesantren bahrul Ulum Tambak Beras Jombang), KH. Machrus Ali (Syuriah NU Wilayah Jatim dan Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri), KH. Abdul Karim Hasyim (putra pendiri NU dan pengasuh pesantren Tebu Ireng Jombang) dan KH. Hamim Djazuli (Gus Mik) (putra pendiri Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri).

Kesempatan baik tersebut dipakai oleh Mbah Yahi untuk menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada segenap hadirin. “Permisi saya mempunyai amalan Sholawat Wahidiyah apakah panjenengan mau saya beri ijazah?” Kata Mbah Yahi dalam sambutannya. Spontan yang hadir menjawab “Kerso”(mau), diantara hadirin ada yang berdiri dan ada pula yang setengah berdiri. Saat itu pula Kyai Wahab Hasbullah spontan berdiri sambul mengacungkan tangannya dibarengi ucapan yang lantang. “Qobiltu awwalan, Qobiltu awwalan”(Saya terima duluan).

Sementara itu KH. Wahab Hasbullah dalam sambutannya antara lain mengatakan, “Hadirin….ilmu Gus Abdul Madjid dalam sekali, ibarat sumur begitu sedalam sepuluh meter, sedang saya hanya memiliki ukuran satu koma dua meter saja, Sholawatnya Gus Madjid ini akan saya amalkan”.

Setelah itu beliau semakin gencar dalam menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan membentuk sebuah organisasi yang bernama “PUSAT PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH” yang diketuai oleh bapak KH. Yassir dari Jamsaren Kediri.

Pernah pada suatu saat beberapa ulama utusan Partai NU cabang Kediri bersama-sama bersilahturahmi kepada beliau mohon penjelasan tentang Sholawat Wahidiyah beliaupun menjelaskan dengan jawaban yang singkat dan tepat. Beberapa pertanyaan yang diajukan diantaranya: “Sholawat Wahidiyah itu prinsipnya apa? Dasarnya apa dan menurut Qoul yang mana? Dengan tegas beliau menjawab. “Sholawat Wahidiyah itu susunan saya sendiri”. Para tamu kembali bertanya, “apa benar, Kyai mengatakan kalau orang yang membaca Sholawat Wahidiyah itu sama dengan ibadah setahun?” Di jawab oleh Mbah Yahi, “Oh, bukan begitu. Saya hanya mendapat alamat, kalau membaca Sholawat “Allohumma kamma Anta Ahluh…..” itu sama dengan ibadah setahun. Begitu itu, ya tidak saya jadikan hukum. Adalagi keterangan lain, “Orang membaca Sholawat badawi sekali sama dengan khatam dalil sepuluh kali”. Para tamu masih terus bertanya, “Apa benar Kyai, kalau tidak mengamalkan sholawat Wahidiyah itu tidak bisa makrifat?. Itukan menjelek-jelekkan thoriqoh, menafikkan thoriqoh?” Dengan tegas dan lugas beliau menjawab, “Bukan begitu, masalah jalannya makrifat itu banyak”. Setelah itu para tamu tidak bertanya-tanya lagi.

Suatu ketika Muallif juga memberikan penjelasan mengenai Sholawat Wahidiyah di Dk. Mayan desa Kranding kec. Mojo kab. Kediri di hadapan para Kyai se-kecamatan Mojo Selatan. Yang hadir pada saat itu antara lain KH. M. Djazuli Pengasuh Penpes Al Falah ploso. Dalam khutbah iftitahnya beliau Muallif Sholawat Wahidiyah mengucapkan : “Alhamdulillahi aataanaa bilwahidiyyati bifadli robbina”.

Sebelum Wahidiyah disebarkan secara umum. Beliau mengirimkan Sholawat Wahidiyah yang ditulis tangan oleh K. Muhaimin (Alm) santri Kedunglo, kepada para ulama Kediri dan sekitarnya disertai surat pengantar yang beliau tanda tangani sendiri. Sejauh itu tak satupun kyai yang dikirimi Sholawat mempersoalkan Sholawat Wahidiyah. “Semua doa sholawat itu baik”. Begitu komentar para kyai waktu itu.

Kalau pada akhirnya muncul pengontras-pengontras Wahidiyah, oleh Mbah Yahi pengontras itu justru dipandang sebagai kawan seperjuangan bukan sebagai lawan. Sebab dengan adanya pengontras tersebut mendorong pengamal jadi lebih giat dalam bermujahadah dan sesungguhnya para pengontras itu ikut menyiarkan Wahidiyah dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri. Karena dengan adanya pengontras itu, orang yang semula belum tahu Wahidiyah menjadi tahu. Mereka juga ikut andil dalam perjuangan Fafirruu Ilalloh wa Rasulihi SAW.

V. Wafatnya Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Romo Yahi kurang sehat, beliau gerah (sakit), dan kabar itu segera menyebar keseluruh peserta resepsi Mujahadah Kubro di bulan Rojab tahun 1989. kontan saja resepsi Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW menjadi lain dari biasanya. Suasana syahdu terasa sangat melingkupi hari-hari Mujahadah Kubro. Apalagi pada malam pertama, kedua dan ketiga Mbah Yahi tidak mios (tidak hadir secara langsung ketempat acara) untuk menyampaikan fatwa dan amanat.

Pada malam terakhir, sebenarnya beliau sudah melimpahkan pengisian fatwa dan amanat kepada orang lain. Tetapi hadirin para pengamal Sholawat Wahidiyah sangat merindukan beliau hadir ditengah-tengah peserta untuk mendengarkan langsung fatwa terakhir beliau. kemudian wakil dari peserta menyampaikan kepada Mbah Yahi akan kerinduan dan kecintaan para pengamal kepada Mbah Yahi. Akhirnya beliau berkenan menyampaikan fatwa dan amanat terakhirnya.

Syukur alhamdulillah, karena kasih sayang Mbah Yahi kepada para pengamal, beliau berkenan menyampaikan fatwa terakhir di malam terakhir pelaksanaan mujahadah kubro meski dari kamar dalem tengah. Pada kesempatan tersebut beliau meng-ijasahkan Sholawat Wahidiyah kepada seluruh hadirin untuk diamalkan dan disiarkan dengan kalimat, “ajaztukum bihadzihis sholawatil wahidiyyati fil amali wan nasyri”.

Setelah itu kondisi kesehatan beliau semakin menurun, walau demikian beliau masih juga berkenan mengisi pengajian Minggu pada dari dalem.

Begitulah beliau Mbah Yahi QS wa RA, di saat-saat akhir hayatnya beliau masih membimbing dan mentarbiyah pengikutnya.

Pada hari Selasa Wage tanggal 7 Maret 1989 atau 19 Rojab 1409 jam 10.30 WIB, beliau dipanggil menghadap sang Kholik Allah SWT.
(Ditulis dari berbagai sumber)

" BIOGRAFI MBAH YAHI MA’ROEF RA. "

Ketinggian ilmunya diakui secara international, terbukti pada pendirian NU (Nahdatul Ulama) yang pertama, beliau terpilih menjadi Mustasyar NU bersama ulama bertaraf international lainnya. Di zamannya, keampuhan doanya tak tertandingi. Beliau adalah “Profesor Do’a” yang memiliki ribuan do’a untuk segala macam kebutuhan. Serta memadukan antara bahasa Arab dan Jawa untuk do’anya. Dari bumi pilihannya Kedunglo, beliau telah berhasil melahirkan ulama-ulama keramat yang menyebar di pulau Jawa. Beliau juga memberi semangat para santri dan tentara dengan do’anya sehingga mereka selamat di medan pertempuran. Dan dari bumi Kedunglo pula, terlahir Shalawat ampuh, shalawat yang dibutuhkan seluruh ummat “Shalawat Wahidiyah”, buah taklifan putra beliau.

I. KH. MOHAMMAD Ma’roef RA.

Masa Kecil

Mbah KH. Mohammad Ma’roef RA. dilahirkan di dusun Klampok Arum Desa Badal Ngadiluwih Kabupaten Kediri pada tahun 1852. Beliau, berasal dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya, Mbah Yahi Abdul Madjid adalah pendiri pondok Klampok Arum selatan Masjid Badal dan seorang yang sangat dihormati dan ditokohkan di daerahnya. Konon ayahnya mempunyai kebiasaan tirakat dengan hanya makan kunir saja. Mbah Yahi Madjid menurut penuturan Mbah Yahi Ma’roef kepada murid-muridnya mempunyai kesabaran yang luar biasa. Ibunya yang ingin tahu bagaimana murahnya si suami sampai-sampai membuatkan sayur tom(sayur yang rasanya sangat pahit dan apabila sayur tersebut digosokkan ke kambing yang cacingan, seketika cacingnya mati) kemudian dihaturkan kepada suaminya. Tapi dengan lahap seolah merasa tidak kepahitan Mbah Yahi Madjid malah tersenyum manis sembari berkata “Segar sekali sayur buatanmu ini besok buatkan sayur seperti ini lagi, ya?” Pintanya kepada istrinya.

Mbah Ma’roef RA. Merupakan putra kesembilan dari sepuluh bersaudara. Tiga perempuan dan tujuh laki-laki. Saudara-saudaranya itu adalah:

Nyahi Bul Kijah, KH. Muhajir, Kyai Ikrom, Kyai Rohmat, Kyai Abdul Alim, Kyai Jamal, Nyahi Muntaqin, Kyai Abdullah, KH. Moh. Ma’roef dan Nyahi Suratun.

Mbah Ma’roef tidak lama merasakan kasih sayang ibunya, sebab ibunya sudah wafat ketika beliau masih kecil, sebagai gantinya, beliau mendapat kasih sayang dari ayah dan saudara-saudaranya. Akan tetapi tidak lama berselang, ayahnya juga menyusul ibunya sowan kehadirat Allah. Setelah itu Mbah Ma’roef diasuh oleh Mbah Yahi Bul Kijah, mbak ayunya yang sulung.

Karena kondisi ekonomi mbak ayunya yang juga pas-pasan, tak heran kalau di usia wajib belajar beliau belum bersekolah. Mbah Ma’roef hanya belajar mengaji Al Qur’an yang diajari sendiri oleh mbak ayunya. Itupun mbak ayunya sering mengeluh karena Mbah Ma’roef kecil belum bisa apa yang telah diajarkan seakan tidak ada yang nyantol di otak Mbah Ma’roef. Saking jengkelnya, akhirnya mbak ayunya menyuruh adiknya agar sering puasa Senin-Kamis. Saran tersebut dilaksanakan oleh Mbah Ma’roef.

Tidak lama setelah menjalankan puasa Senin-Kamis beliau bermimpi seekor ikan Mas meloncat masuk kedalam mulutnya. Sejak saat itu beliau langsung bisa membaca Al Qur’an sampai khatam. Beliau kemudian menemui mbak ayunya. “Mbak, aku sudah khatam al Qur’an.” Dilapori demikian Mbah Nyahi Bul Kijah kaget dan tidak percaya. “Kemarin saya ajari sulitnya minta ampun kok sekarang sudah khatam Qur’an.” Mbah Ma’roef kemudian berkata; “Kalau ndak percaya, akan saya baca sampeyan yang nyimak.” Mbah Ma’roef lantas membaca Al-Qur’an hingga khatam.

II. BELAJAR DENGAN TIRAKAT

Suatu ketika beliau dimarahi dan dipukul uleg-uleg (alat untuk menghaluskan bumbu) oleh mbak ayunya lalu beliau memutuskan menyusul kakak-kakaknya yang terlebih dahulu mondok di Cepoko Nganjuk dengan berjalan kaki.

Selama mondok di Cepoko keadaan beliau sangat memprihatinkan. Konon, beliau hanya makan seminggu sekali itupun makanan pemberian orang-orang sekitar pondok yang setiap malam Jum’at mengirim makanan ke pondok. Pada hari-hari biasa, apabila beliau merasa lapar beliau hanya makan intip(nasi hangus) yang masih melekat di panci dan tidak dimakan oleh pemiliknya. Atau makan buah Pace yang pohonnya beliau tanam sendiri di lingkungan pondok. Pernah juga beliau mengajak kakaknya mengemis ke desa-desa untuk biaya mondok dan hidup selama di pondok. Beliau juga pernah menjadi buruh panjat kelapa dengan upah sebutir kelapa yang bagus. Bahkan oleh pemilik pohon kelapa beliau diberi tanah dan oleh Mbah Ma’roef tanah tersebut ditanami pohon kelapa.

Untuk menghilangkan rasa lapar karena jarang makan, beliau sampai menyumpahi perut dan mulutnya setiap hari Jum’at di dekat blumbang(kolam) buatan beliau sendiri. “Hai perut, jangan minta makanan jika belum hari Jum’at tiba. Mulut, jangan minta minum jika belum hari jum’at tiba, beliaupun makan dan minum sepuasnya. Setelah makan beliau juga menyumpahi duburnya, “Dubur, jangan kenthut-kenthut jika belum hari Jum’at tiba.”

Kondisi yang cukup memprihatinkan selama nyantri membuat Mbah Ma’roef mempunyai kebiasaan puasa dan munajat kepada Allah SWT. Karena itulah Allah menganugrahkan beliau ilmu laduni di bidang ilmu Fiqih yang bermula dari mimpi beliau mengajar kitab Kuning di pondok. Setelah kejadian mimpi tersebut, beliau yang sudah mondok selama tujuh tahun dan baru kelas satu tsanawiyah tiba-tiba bisa membaca kitab kuning yang biasa diajarkan Kyai nya. Beliaupun lantas sowan pada Kyai Muh gurunya, melaporkan bahwa beliau mendapat ilmu laduni dan bisa membaca kitab.

Kyai Muh kemudian mengumumkan kepada seluruh santrinya kalau besok beliau tidak mengajar, yang mengajar adalah Mbah Ma’roef dari Kediri. Mendengar pengumuman tersebut seluruh santri mengejek Mbah Ma’roef. Terutama santri senior yang memang tidak senang dan merasa iri dengan keberadaan Mbah Ma’roef di Cepoko. Sehingga muncul komentar-komentar bernada miring. “Mondok saja belum tamat, ndak bisa ngaji kok mau ngajari ngaji.”

Keesokan harinya Mbah Ma’roef memukul kentongan pertanda pelajaran akan dimulai. Tapi karena para santri tahu kalau hari itu yang menggantikan gurunya adalah Mbah Ma’roef, maka hanya beberapa orang saja yang berkumpul di masjid. Mbah ma’roef tidak peduli dengan ketidak hadiran para santri senior yang alim-alim, beliau tetap membuktikan kemampuannya mengajar kitab yang biasa diajarkan oleh Kyai Muh kepada santri-santrinya.

Ternyata benar, Mbah Ma’roef bisa mengajar bahkan hafal isi kitab milik gurunya tersebut. Tentu saja peristiwa ini menggemparkan seisi pondok. Mbah Ma’roef santri miskin yang semula diremehkan dan dibenci teman-temannya seketika di sanjung dan dihormati. Bahkan katanya, Kyai Muh gurunya akhirnya berbalik berguru pada beliau. Sementara itu, para santri senior yang suka mengejek Mbah Ma’roef saat itu juga meninggalkan Pondok Cepoko.

Namun beliau tidak lama di Cepoko, kemudian beliau melanjutkan mencari ilmu di Semarang pada Kyai Sholeh, Ndarat. Genap dua tahun mondok di Ndarat, beliau pindah nyantri pada Kyai Sholeh Langitan Tuban.

Dalam perjalanannya menuju pesantren yang beliau tempuh dengan jalan kaki tak jarang di tengah jalan beliau dihadang para perampok. Namun karena beliau punya ilmu penglimunan para begal itu tidak bisa melihat Mbah Ma’roef yang berlalu dihadapannya.

Genap setahun di Langitan, beliau pulang ke rumahnya. Namun tidak lama beliau yang waktu itu sudah memasuki usia 30 tahun langsung diambil menantu oleh Kyai Shaleh Banjar Mlati di peruntukkan putri sulungnya yaitu nyahi Hasanah.

Sekitar dua tahun saja Mbah Ma’roef menemani istrinya, karena setelah putra pertama lahir, beliau pergi ke Bangkalan untuk menimba ilmu pada Kyai Khalil yang masyhur sebagai auliya keramat yang dibiayai oleh Kyai Shaleh mertuanya yang terkenal kaya raya.

III. BERGURU PADA KYAI KHALIL BANGKALAN

Setelah menyeberangi selat Madura dengan berenang, ada yang mengatakan beliau tidak berenang melainkan langsung berjalan di atas selat Madura hingga tiba di daratan Madura. Beliau langsung menuju Demangan pondok Kyai Khalil, dan beliau sendiri yang menerima Mbah Ma’roef.

“Hai, anak Jawa, tampaknya kamu lapar, ini saya beri makan harus dihabiskan.” Perintah Kyai Khalil sembari menyerahkan nasi satu nampan besar dengan lauk ikan bandeng sebesar betis orang dewasa.

“Ya, Kyai,” jawab Mbah Ma’roef. Beliau pun mulai makan yang porsinya untuk beberapa orang dengan niat menyerap ilmunya Kyai Khalil. Selama Mbah Ma’roef makan, Kyai Khalil terus mengawasi calon muridnya dengan berdiri disamping Mbah Ma’roef dengan tongkat di tangannya yang siap beliau ayunkan apabila Mbah Ma’roef tidak menghabiskan makanan yang telah beliau berikan.

Mbah Ma’roef yang telah terbiasa puasa dan berlapar-lapar tentu saja merasa tidak mampu menghabiskan nasi sebanyak itu. Namun karena beliau mempunyai do’a yang membuat perut tidak merasa kenyang walau sudah kemasukan makanan berapapun banyaknya, yang beliau baca sebelum makan. Alhasil, nasi senampan pemberian Kyai Khalil dengan lahap dihabiskan tanpa sisa. Mengetahui hal itu, Kyai Khalil seketika berkata, “Ini orangnya yang akan menghabiskan ilmuku.”

IV. RIYADHAH DI MAKAM AULIYA MADURA

Riyadhah sudah menjadi bagian hidup Mbah Ma’roef. Selama nyantri pada Kyai Khalil, kegandrungannya dalam hal riyadhah semakin menjadi-jadi. Selama nyantri di Bangkalan ini pula beliau mempunyai kebiasaan baru yaitu berziarah ke makam-makam keramat para auliya se-Madura. Di makam tersebut, beliau bukan sekedar ziarah biasa tetapi makamnya disowani dan ditirakati sehingga beliau bisa berdialog langsung dengan si penghuni makam. Tujuan beliau riyadhah di makam-makam keramat tersebut tiada lain karena beliau ingin memiliki ilmu “Sak mlumahe bumi lan sak mengkurepe langit” yaitu ingin memiliki ilmu seluas bumi dan langit tanpa harus belajar. Artinya, beliau ingin mendapat ilmu laduni.

Sudah demikian banyak makam keramat yang beliau datangi, namun kesemuanya memberikan jawaban kalau ingin alim harus belajar dulu. Jawaban tersebut mengecewakan Mbah Ma’roef. Lha wong ingin dapat ilmu tanpa harus belajar kok disuruh belajar.

Terakhir, beliau riyadhah di makam yang berada di Bujuk Sangkak. Sebagaimana yang sudah-sudah di sana beliau juga tirakat hingga bisa ditemui oleh penghuni makam.

“Hai, anak muda mengapa kamu tirakat di sini?”. “Saya santri Bangkalan ingin jadi orang alim. Do’akan saya agar diberi ilmu laduni.” Pinta Mbah Ma’roef. Jawaban penghuni makam tersebut lain dari pada yang lain.

“Bisa, kamu bisa mendapat ilmu laduni tapi tirakatmu masih kurang.” Mbah Ma’roef langsung menangis sedih dan putus asa. “Saya sudah tirakat seperti ini kok ya masih kurang.” Dengan rasa putus asa beliau kembali ke pondok dan terus menangis. Kyai Khalil mengetahui apa yang dirasakan muridnya kemudian beliau bertanya kepada Mbah Ma’roef. “Ma’roef, sudah berminggu-minggu kamu tidak berada di pondok, pergi kemana saja kamu?” Tanya Kyai Khalil.

“Saya riyadhah di kuburan wali-wali, mereka semua tidak bisa memberi saya ilmu laduni. Terakhir saya riyadhah di Bujuk Sangkak, katanya saya bisa mendapatkan ilmu laduni, tapi riyadhah saya masih kurang. Riyadhah yang bagaimana lagi yang mesti saya lakoni, padahal semua riyadhah sudah saya jalankan.”

“Ada satu makam lagi yang belum kamu datangi yakni makam Mbah Abu Syamsuddin di Batu Ampar. Beliau wali besar. Semalam saya bertemu Mbah abu Syamsuddin, beliau menyuruh saya menulis di kuburannya. “Siapa yang bisa mengkhatamkan al-Qur’an sekali duduk, apapun keinginannya akan tercapai. “Mbah Ma’roef langsung berangkat ke Batu Ampar dan mengkhatamkan al-Qur’an dari Shubuh sampai Ashar sekali duduk.

Selesai mengkhatamkan qur’an seketika datang angin Lysus menerjang tubuh beliau. perasaan beliau, saat itu kepalanya dipegang dan ditumpahi nasi kuning hingga beliau muntah berak.

Sepulang riyadhah di makam Mbah Abu Syamsuddin, segala kitab yang ada di pondok Kyai Khalil beliau kuasai. Tercapailah sudah keinginan Mbah Ma’roef untuk memiliki ilmu seluas bumi dan langit tanpa harus belajar.

V. MENDIRIKAN PONDOK KEDUNGLO

Suatu ketika beliau disuruh mertuanya mencari tanah untuk dijadikan pondok pesantren. Mbah Ma’roef tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, beliau lantas tirakat sambil membaca Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali. Akhirnya beliau mendapat alamat, bahwa tanah yang cocok untuk didirikan pondok adalah tanah yang berada di sebelah barat sungai Brantas di antara dua jembatan kembar.

Alamat tersebut lalu dihaturkan kepada mertua berliau. Tetapi mertua dan semua orang kurang setuju dengan tanah pilihan Mbah Ma’roef yang dikenal sebagai tanah supit urang yaitu tanah yang bewujud perairan semacam danau/rawa tidak berupa daratan. Namun Mbah Ma’roef tetap pada pendirianya memilih tanah tersebut dengan mengungkapkan beberapa alasan yaitu Pondok ini nanti akan memiliki beberapa keistimewaan, pertama dekat pasar, kedua dekat sungai, ketiga apabila ke timur sedikit kota. Maka alasan tersebut diterima dan jadilah tanah tersebut dibeli.

Setelah tanah tersebut dibeli, maka didirikan sebuah pondok pesantren pada tahun 1901 yang bertempat di sebelah utara (kini lokasi Miladiyah). Pondok tersebut diberi nama Kedinglo. Nama Kedunglo berasal dari kondisi tanah yang waktu itu berupa kedung semacam danau dan disana terdapat pohon Lo yang besar.

Setelah beliau tinggal di Kedunglo maka berduyun-duyunlah para santri ingin menimba ilmu pada beliau. Namun karena beliau tidak suka memiliki banyak santri, maka sebagian santri beliau serahkan kepada Kyai Abdul Karim Lirboyo yang saat itu baru mempunyai beberapa santri saja.

Ketika ditanya mengapa tidak suka mempunyai banyak santri? Beliau menjawab.”Aku emoh memelihara banyak santri. Disamping repot, kalau punya banyak santri, pondok ini jadi kotor. Karena itu saya mohon kepada Allah, agar santri saya tidak lebih dari 50 orang. Kalau lebih dari lima puluh, ada yang ndugal akhirnya pondok ini jadi rusuh. Memang benar setelah diteliti santri beliau tidak pernah lebih dari 40 orang. Kalau lebih dari empat puluh orang pasti ada yang pulang.

Di pondok Kedunglo disamping sebagai pengasuh, beliau adalah guru tunggal. Jadi beliau tidak mempunyai guru pembantu yang mengajar santri-santrinya. Karena santri-santrinya beliau tangani sendiri, tak heran kalau sepulang mondok di Kedunglo santri-santri beliau menjadi orang-orang alim dan ampuh. Sedangkan santri beliau yang menjadi orang besar antara lain : Mbah Yahi Dalhar Watu Cengo Magelang, Kyai Manab Lirboyo(konon meski sudah memiliki banyak santri masih ngaji di Kedunglo), Kyai Musyafak Kaliwungu Kendal, Kyai Dimyati Tremas, Kyai Bisri Mustof Rembang, Mbah Yahi Mubasyir Mundir, Kyai Marzuqi Solo dan para Kyai Kediri kesemuanya pernah nyantri pada Mbah Ma’roef RA.

Karena beliau adalah seorang alim alamah dan menguasai berbagai macam disiplin ilmu, maka kitab-kitab yang diajarkan beliau adalah kitab-kitab yang tinggi. Bahkan cara beliau mengajar tidak sebagaimana guru-guru sekarang. Untuk mengajar Syarah Al-fiyah saja disamping menerangkan syarahnya beliau juga membahas arudnya (balaghohnya), maka satu pelajaran yang beliau bahas sudah termasuk atau meluas ke mata pelajaran yang lain.

VI. BERORGANISASI

Pada tahun 1926, Mbah KH. Moh. Ma’roef RA mulai menerjunkan diri dalam oragnisasi kemasyarakatan karena diajak oleh sahabatnya yaitu KH. Moh. Hasyim Asy’ari yang pada waktu itu akan mendirikan Nahdhatul Ulama(NU). Maka setelah NU berdiri sebagaimana yang tertulis di Qonun Asasi (AD/ART) pendirian NU yang pertama, Mbah ma’roef duduk di Mustasyar NU. Selain Mbah Ma’roef ada pula nama Syekh Ghonaim Al-Misri seorang ulama dari Al-Azhar Mesir yang juga menjabat di Mustasyar. Sedangkan KH. Hasyim Asy’ari sendiri pada waktu itu menjabat sebagai Rais Akbar Syuriah NU.

Melihat kedudukan Mbah Ma’roef di organisasi NU saat itu menunjukkan bahwa tingkat keilmuan beliau bertaraf internasional. Karena hanya beberapa ulama tertentu saja yang dapat menduduki jabatan tersebut.

Sebagai penasihat di NU, beliau sering menghadiri muktamar-muktamar NU yang diadakan didaerah-daerah. Dan pada acara tersebut, beliau yang sangat makbul do’anya, langsung didaulat untuk memimpin do’a. Biasanya, jika para ulama NU mengadakan Bahtsul Masail lalu menemui jalan buntu, mereka sowan pada Mbah Ma’roef RA untuk meminta petunjuk pada beliau. dalam hal ini beliau hanya mengatakan, “Masalah itu ada di kitab anu…”. Tanpa menjelaskan detail masalah.

VII. ISTRI-ISTRI DAN PUTRA-PUTRI BELIAU

Menurut riwayat, beliau mempunyai banyak istri, ada yang mengatakan beliau mempunyai istri 22 orang, bahkan ada yang mengatakan lebih dari itu. Kebiasaan beliau menikah ini konon karena beliau kerap bepergian dalam waktu yang lama dan ingin menebar bibit yang baik. Karena itu hampir setiap daerah yang beliau singgahi, beliau melangsungkan ijab qobul dengan gadis setempat. Ada pula yang mengatakan kalau pernikahan beliau melebihi ketentuan syariat hanya ijab saja, karena orang tua si gadis ingin mengalap berkah pada Mbah Ma’roef Allahu’alam.

Namun dari sekian istri-istri beliau yang diketahui berjumlah lima orang dan yang dikaruniai putra hanya tiga orang saja. Para istri dan putra-putri beliau adalah : pertama nyahi Hasanah binti Shaleh dari Banjar Mlati. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai sembilan putra yaitu: Nyahi Musthoinah, KH. Moh. Yasin, Nyai Aminah, Nyahi Siti Saroh, Siti Asiyah, Nyahi Romlah, KH. Abdul Madjid, Kyai Ahmad Malik, Qomaruzzaman (wafat ketika masih kecil). Istri kedua, Nyahi Maunah dari Klampok Arum Badal mempunyai putri bernama Fatimah. Istri ketiga, Nyahi Masyrifah dari Sanggrahan mempunyai dua putra, yakni : Moh. Zainuddin (wafat ketika masih kecil) dan Maimunah. Istri keempat dan kelima tidak diketahui namanya namun diketahui berasal dari Prambon Nganjuk dan Gampeng Kediri. Riwayat lain mengatakan beliau juga mempunyai istri dan keturunan di Bangkalan Madura.

VIII. KEPRIBADIANNYA

Konon Mbah Yahi Ma’roef RA terkenal memiliki temperamen yang keras, menurut Kyai Baidhawi, temperamen Mbah Ma’roef menurun kepada cucunya yaitu KH. Abdul Latif Madjid. Kalau Mbah Ma’roef sedang marah pada seseorang ya marah betul. Bahkan kalau beliau sedang marah dan sempat mengeluarkan kata-kata celaka, maka orang yang dimarahi akan celaka betul.

Temperamen yang keras barangkali disebabkan karena sejak kecil beliau sudah yatim piatu dan kurang kasih sayang dari orang tuanya. Apalagi untuk bertahan hidup beliau harus bekerja keras dibarengi tirakat. Sehingga dapat dipastikan beliau lebih banyak puasa dari pada tidak.

Mbah Ma’roef Ra semasa hidupnya senang bersilahturahmi. Karena itulah beliau sering meninggalkan pondok Kedunglo untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya, murid-muridnya bahkan orang-orang biasa dalam waktu yang lama.

Sifat-sifat yang lain, beliau adalah orang yang terbuka. Segala peristiwa yang terjadi pada beliau hampir semua diceritakan pada keluarga beliau dan murid-murid kesayangannya mengetahui perjalanan hidup gurunya dari yang sifatnya umum sampai yang pribadi.

Kepada para santrinya, beliau sangat perhatian. Karena itu seluruh santri-santri beliau, beliau sendiri yang mendidiknya hingga si santri menjadi orang. Kedekatan beliau dengan para santri tak ubahnya seperti seorang ayah kepada anaknya. Karena itu beliau sangat dihormati dan disayangi oleh para santrinya.

Mbah Ma’roef juga dikenal sangat dermawan. Dermawan dalam hal harta maupun do’a-do’a. dapat dipastikan semua orang yang meminta harta maupun do’a kepada beliau tidak pernah ditolaknya. Pernah suatu ketika beliau memberi ongkos kepada orang yang ingin pergi haji. Padahal di waktu yang sama putra beliau Gus Madjid berada dalam kemiskinan. Ketika ditanya, mengapa uang untuk ongkos naik haji itu tidak diberikan saja kepada putranya? Dengan penuh makna beliau menjawab. Madjid itu anak shaleh. Dia ditanggung langsung oleh Allah. Para tamu yang kelaparan, beliau beri makan hingga kenyang. Yang jelas, siapapun yang pernah hidup di zamannya dan meminta tolong pada beliau merasakan betapa beliau seorang yang sangat perhatian pada sesamanya.

Meski beliau mempunyai ilmu seluas bumi dan langit, serta terkenal doanya di-ijabahi seketika dan beliau sendiri sangat sering mendemontrasikan kekeramatannya, namun beliau ternyata seorang yang sangat tawadhu dan menjaga anak keturunannya agar juga memiliki sifat tawadhu dalam arti tidak membangga-banggakan keturunannya. Beliau pernah berkata pada salah seorang santri kepercayaannya, “Aku ini punya catatan silsilah keluargaku, namun karena aku khawatir nanti anak turunku membanggakan nasabnya, maka catatan itu aku titipkan pada Kyai Abu Bakar (Bandar Kidul).”

Lalu bagaimana hubungan beliau dengan keluarganya? Beliau dalan hal mendidik putra-putrinya sangat keras dan disiplin. Karena itu beliau menangani sendiri pendidikan putra-putrinya. Beliau juga sangat menekankan kepada putra-putrinya untuk senantiasa membaca shalawat “Shallallahu ala muhammad”. Tak terkecuali putra beliau yang baru bisa bicara dan masih cendal juga diwajibkan membaca shalawat sebanyak 100x. Bagi putranya yang sudah lancar bicara harus membaca shalawat sebanyak 1000x, dan sejumlah 10.000x bagi yang sudah baligh. Karena mendapat bimbingan langsung dari Mbah Ma’roef, tak pelak putra-putri beliau tumbuh menjadi seorang yang cerdas, alim dan ampuh.

Utnuk mendekatkan hubungan batin antara ayah dan anak juga cucu, beliau sering mendongengi putra dan cucu-cucunya kisah-kisah teladan sebelum tidur. Beliau juga mengajari mereka do’a-do’a lain menjelang tidur. Namun setelah mbah Nyahi Hasanah wafat dan Mbah Ma’roef menikah lagi, seakan ada jarak antara ayah dan anak. Konon putra dan putri beliau tidak berani mendekat kalau tidak dipanggil. Mbah Ma’roef juga berpesan kepada Mbah Ruba’i santri kesayangannya apabila para putranya menginginkan sesuatu agar disampaikan melalui Mbah Ruba’i. Maka kalau putra beliau mau minta uang kepada beliau Mbah Ruba’i lah yang diminta tolong agar menyampaikan kepada ayahnya. Dan melalui Mbah Ruba’i itu pula para putra mendapatkan uang. Hanya satu putra beliau yang tidak pernah meminta tolong kepada Mbah Ruba’i untuk meminta sesuatu kepada ayahnya, yaitu Agus Abdul Madjid.

IX. PERGI HAJI BERSAMA ISTRI

Pada tahun 1918, Mbah Yahi Ma’roef RA menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya dengan mengajak Mbah Nyahi Hasanah RA yang saat itu sedang mengandung putra ketujuh. Karena naik haji pada masa itu ditempuh dalam waktu setengah tahun lebih, maka kelahiran putra lelaki yang tampan dan sehat di tempat yang mulia dan mubarokah disambutnya dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Maka Mbah Ma;roef lantas memberikan nama bayi tersenut “Abdul Madjid”.

(sedangkan menurut penuturan Mbah Nyahi Romlah Ma’roef. Mbah Yahi Madjid QS wa RA di lahirkan di Kedunglo. Dan diajak ke Makkah saat beliau baru berusia 1,5 tahun).

Setiap memasuki jam dua belas malam, Mbah Ma’roef menggendong bayinya yang masih merah ke Baitullah dibawah Talang Mas. Di sana, beliau memanjatkan do’a agar bayi dalam gendongannya kelak menjadi orang besar yang shaleh hatinya.

Selama berada di Makkah, Agus Madjid yang juga di khitan disana akan diadopsi oleh salah satu ulama Makkah. Akan tetapi Mbah Nyahi Hasanah tidak mengizinkan sehingga Agus Madjid tetap berada dalam asuhan kedua orang tuanya sendiri.

X. BERJUANG DENGAN KEAMPUHAN DO’A NYA

Sumbangsih Mbah Ma’roef kepada negara di zaman perjuangan mengusir penjajah amatlah besar. Hal ini beliau tunjukkan saat pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya meledak. Bersama Mayor Hizbullah Mahfud dan Kyai Hamzah (ayah Mbah Nyahi Shafiyah RA) beliau turut ke medan pertempuran walau berada di garis belakang sebagai tukang do’anya. Berkat do’a Mbah Ma’roef, tak jarang bom yang meledak berubah menjadi butiran-butiran kacang hijau. Sebagaimana pula diriwayatkan oleh murid-muridnya yang juga turut berperang, para tentara dan santri yang ikut berjuang kebal dengan berbagai senjata setelah diasmai oleh Mbah Ma’roef.

Cara beliau mengisi kekebalan pasukan tergolong unik. Pertama setelah pasukan dibariskan, beliau menyuruh mereka agar minum air jeding di utara serambi Masjid. Selanjutnya beliau berdo’a yang diamini oleh pasukan pejuang. Di antara do’anya, “Allahumma salimna minal bom wal bunduq, wal bedil wal martil, wa uddada hayatina”. Do’a beliau yang kedengarannya nyeleneh ternyata sangat manjur. Terbukti pada semua tentara yang sudah beliau isi kebal aneka senjata.

Konon Gus Nawawi dari Jombang ketika bertempur punggungnya terkena martil. Tapi beliau tidak apa-apa malah punggungnya ngecap martil sebesar ontong. Kyai Hamzah besannya sendiri yang juga mengikuti pertempuran di Surabaya. Kabarnya kaki –nya juga terkena bom tapi tidak apa-apa.

Kyai Bisri Mustofa (ayah Kyai Mustofa Bisri) Rembang, di zaman itu pernah di kejar-kejar penjajah Jepang. Beliau kemudian lari ke Kedunglo minta perlindungan kepada Mbah Ma’roef. Kemudian Mbah Ma’roef mengijazahi sebuah do’a, setelah diamalkan beliau selamat dari incaran orang Jepang. Berkat jasa Kyai Kedunglo, beliaupun lalu mewasiatkan kepada anak cucunya agar terus mengamalkan do’a pemberian Mbah Ma’roef, doa tersebut oleh Kyai Bisri Musthafa diabadikan dalam buku terjemah Burdah. Itulah Mbah Ma’roef, memanfaatkan keampuhan do’anya dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

XI. KEKERAMATANNYA

Berbicara mengenai kekeramatan Mbah Yahi Ma’roef RA seakan tidak ada habisnya. Orang-orang yang hidup sezaman dengan beliau dan pernah bergaul dengan beliau dipastikan pernah menyaksikan dan merasakan langsung kekeramatan beliau. dan siapapun tidak akan menyangkal bahwa kekeramatan beliau terletak pada keampuhan do’anya yang di-ijabahi dalam waktu sekejab, ucapannya “sabda pandhito ratu” dan firasatnya tak pernah meleset.

Hebatnya lagi meski Mbah Yahi Ma’roef RA sudah wafat tapi orang-orang sepeninggal beliau, yang mujahadah di makam beliau juga turut pula merasakan kekeramatan beliau. berikut ini adalah sebagian kecil kekeramatan Mbah Yahi Ma’roef RA:

1. Diriwayatkan oleh Ibu Nurul Ismah Madjid dari pak Pardi dari Kyai Ridwan santri Mbah Ma’roef yang berasal dari Pagu Kediri. Beliau bercerita, “Suatu hari Mbah Ma’roef RA mengajak Kyai Ridwan ke Dhoho. Kebetulan saat itu sungai Brantas banjir hingga airnya meluap dan tidak ada rakit buat menyeberang. Hendak berjalan lewat utara terlalu jauh. Akhirnya Mbah Ma’roef berkata kepada santrinya, “Yakh…terpaksa kita menyeberangi sungai. Ridwan berdirilah dibelakangku dan pegangi jubahku.” Kemudian keduanya berjalan diatas permukaan sungai hingga tiba di tepi sebelah timur. Ajaibnya meski kaki Mbah Ma’roef menyentuh air tapi sama sekali tidak basah. Sedangkan Kyai Ridwan hanya basah sampai mata kaki.

2. Dikisahkan oleh Mbah Yusuf santri Mbah Ma’roef dari Tawansari Tulung Agung (paman Mbah Nyahi Shofiyah RA). Suatu hari datang seorang tamu mengantar surat untuk Mbah Ma’roef RA. Sepeninggal tamu tersebut, Mbah Ma;roef membalas surat tersebut dengan menyuruh salah satu santrinya agar menghanyutkan surat itu ke sungai berantas. Mendapat perintah aneh si santri berkata, “Lho kok dimasukkan ke sungai Kyai?”, “Sudah kerjakan perintahku!” Meski tidak mengerti si murid itu melaksanakan juga perintah Mbah Ma’roef memasukkan surat ke dalam sungai. Anehnya, begitu surat tersebut ditaruh di atas air, surat itu berjalan diatas permukaan air. Lebih aneh lagi surat itu berjalan melawan arus sungai. Akhirnya surat tersebut tiba juga pada alamat yang dituju dalam keadaan utuh tidak basah apalagi rusak karena air.

3. Diriwayatkan dari Kyai Baidhawi. Dulu semasa Mbah Ma’roef masih sugeng. Nabi Khidir sering datang ke Kedunglo menjumpai Mbah Ma’roef, dan kerap Nabi Khidir bermalam di panggung utara.

4. Diriwayatkan oleh Mbah Yahi Makhsun dari Mojo Kediri. Mbah Makhsun adalah salah satu santri Mbah Ma’roef RA, namun setelah Mbah Ma’roef wafat beliau lalu nyantri ke pondok lain, ibunya bingung ditinggal Mbah Makhsun. Mau disuruh pulang, tetapi si ibu tidak tahu kemana perginya sang putra. Akhirnya si ibu mujahadah dimakam Mbah Ma’roef RA. “Mbah Ma’roef…..tolong, kembalikan putra saya.“ Ratap si ibu di depan makam. Sementara si ibu sedang meratap di depan makam. Di pondok barunya, Mbah Makhsun menerima sepucuk surat dari Kyai Ma’roef Kediri yang isinya menyuruh Mbah Makhsun pulang. Sontak para pengurus keheranan, lalu surat tersebut dihaturkan kepada Kyainya. Barulah mereka tahu, kalau ternyata Mbah Makhsun pernah menjadi santri kesayangan Mbah Ma’roef ini bukanlah orang sembarangan.

XII. WASIAT & DETIK-DETIK MENJELANG BELIAU WAFAT

Pada hari-hari terakhir menjelang wafatnya, beliau yang memiliki do’a-do’a ampuh untuk segala macam urusan beliau tulis keseluruhannya di papan tulis. Kemudian beliau menyuruh santrinya untuk menulis do’a-do’a yang disukai. Dengan senang hati para santri segera menulis do’a-do’a tersebut lalu disowankan kepada gurunya. Do’a-do’a pilihan yang sudah ditulis di kertas itu oleh Mbah Ma’roef hanya ditiup saja. Beliau juga sering berwasiat kepada tamunya yang sowan dan minta petunjuk. Agar mengamalkan shalawat saja. Lebih jelasnya beliau mengatakan kalau di Kedunglo nanti akan lahir shalawat yang baik.

Wasiat serupa juga diwasiatkan kepada Mbah Khomsah familinya saat minta restu akan mengikuti ba’iat thariqah yang dihadiri oleh Kyai Romli dari Nganjuk. Beliau dawuh, “Sah, jangan ikut bai’at thariqah. Thariqah itu berat. Untuk orang yang punya uang ndak kuat. Sepeninggalku nanti, disini (Kedunglo) akan ada shalawat yang baik, tunggulah kamu akan menjumpai shalawat itu.” Terbukti, tujuh tahun setelah Mbah Ma’roef wafat shalawat yang dinantikan yakni shalawat Wahidiyah lahir. Maka seluruh keluarga Mbah Khomsah langsung mengamalkan Shalawat Wahidiyah.

Pada detik-detik menjelang wafatnya, Mbah Ma’roef yang sudah berusia 103 tahun dan tidak kuat naik ke masjid, tidak biasanya beliau menyuruh murid-muridnya yang dari Mojo (Mbah Makhsun, Mbah Ruba’i, Mbah Mahfud dan Mbah Mukhsin) agar mengajar anak-anak kecil pakai papan tulis. Padahal jangankan mengajar mau sekolah saja empat sekawan tersebut oleh Mbah Ma’roef tidak diperkenankan.

Dalam kepayahannya karena sakit, beliau masih memikirkan pembangunan pondoknya dengan menyuruh Mbah Makhsun dan Mbah Siyabudin mencari uang untuk membangun pondok. Mbah Makhsun dan Mbah Siyabudin ke Surabaya, Gresik dan Malang melaksanakan perintah Mbah Ma’roef. Ketika masih di Surabaya, Mbah Makhsun mimpi ditemui Mbah Ma’roef yang menyuruhnya pulang karena dimasakkan kepala Kambing.

Kelihatan sekali kalau sang pendiri pondok Kedunglo sangat dermawan. Meski ajal akan menjemput, beliau masih juga berpikir untuk shodaqoh. Maka dengan tangan lemas lemah lunglai beliau membuka-buka kasur dan bantal mencari uangnya. Mbah Nyahi Romlah sang putri melihat kelakuan aneh ayahnya sampai menegur, “Pak, sakit-sakit kok mencari uang buat apa?”. “Wo. Kamu ini bagaimana, ya buat shadaqah.”

Akhirnya, pada hari Rabu Wage ba’da Maghrib di bulan Muharrom tahun 1375 H / 1955 M beliau menghadap kehadirat Allah SWT dengan tenang. Dan pada hari Kamis beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Kedunglo sebagaimana permintaan beliau sendiri..

" Sejarah Lahirnya Sholawat Wahidiyah "

Pada kira – kira awal bulan Juli 1959. Hadrotul Mukarrom Mbah KH. Abdoel Madjid Ma’roef QS wa RA. Pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo – Desa Bandar Lor Kodya Kediri, menerima suatu alamat ghaib dalam keadaan terjaga dan sadar bukan dalam mimpi.
Maksud dan isi alamat ghaib tersebut " SUPAYA MENGANGKAT MASYARAKAT " yang di maksud adalah ikut serta memperbaiki / membangun mental masyarakat khususnya lewat (Jalan Batiniyah), terutama kesadaran kepada Alloh SWT wa Rosullihi SAW.
Sesudah menerima alamat ghaib tersebut Beliau sangat prihatin dan mengetok / memusatkan kekuatan batin bermujahadah ( istilah Wahidiyah ) munajat berdepe – depe / mendekatkan diri kehadirat Alloh SWT, memohon bagi kesejahteraan umat dan masyarakat.

Diantara do’a- do’a yang beliau amalkan yang paling banyak adalah do’a Sholawat. Sholawat Badawi, Sholawat Nariyah, Sholawat Munjiat, Sholawat Masysyiyyah dan masih banyak lagi. Boleh dikatakan hampir seluruh doa- doa Sholawat Beliau amalkan demi memenuhi maksud adanya alamat ghaib tersebut.
Tak ada waktu yang terbuangkecuali di pergunakan Membaca sholawat oleh Beliau. Bahkan amalan Beliau sebelum datangnya alamat ghaib tersebut yang paling banyak adalah doa Sholawat kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Jika Beliau bepergian naik sepeda. Beliau memegang stir dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya dimasukan didalam saku baju, yang ternyata memutar tasbih didalam saku baju tersebut. Amalan do’a Sholawat Nariyah misalnya berkali – kali Beliau hatamkan 4444 kali dalam tempo satu jam kurang lebih. Dengan penuh ketekunan dan prihatin yang sangat mendalam Beliau tidak berhenti – hentinya bermujahadah dan melakukan riyadhoh–riyadhoh seperti puasa sunnah dan sebagainya demi melaksanakan alamat ghaib tersebut, dan tidak ada dari keluarganya yang mengetahui bahwa beliau sedang melaksanakan suatu tugas yang sangat berat. Tugas yang harus dilaksanakan bukan untuk kepentingan pribadi atau keluarga Beliau, tetapi untuk kepentingan umat dan masyarakat, untuk kepentingan perbaikan mental dan akhlaq umat manusia yang beraneka warna laku dan tingkahnya.

Pada kira – kira tahun 1963, menerima alamat ghaib lagi seperti kejadian pada tahun 1959. alamat ghaib yang kedua ini bersifat peringatan terhadap alamat gaib yang pertama supaya cepat – cepat ikut berusaha memperbaiki mental umat masyarakat melalui saluran batiniyahnya.
Maka Beliaupun terus lebih meningkatkan lagi mujahadahnya – mujahadah berdepe – depe kehadirat Alloh SWT. sampai – sampai kondisi fisik jasmani Beliau sering kali terganggu. Namun demikian bathiniyah Beliau tidak terpengaruh oleh kondisi jasmani dan Beliau terus senantiasa berdepe – depe kehadirat Alloh SWT. memohon bagi perbaikan mental dan akhlaq umat masyarakat.

Tidak lama sesudah menerima alamat yang kedua tahun 1963 itu Beliau menerima alamat ghaib dari Alloh SWT yang ketiga kalinya. Dan yang ketiga ini lebih keras sifatnya dari pada yang kedua.

“ Malah kulo dipun ancam menawi mboten enggal – enggal berbuat dengan tegas “ ( malah saya di ancam kalau tidak berbuat dengan tegas ). Demikian kurang lebih keterangan yang Beliau jelaskan.

“Saking kerasipun peringatan lan ancaman, kulo ngantos gemeter sak bakdonipun meniko “. ( karena kerasnya peringatan dan ancaman, saya sampai gemetar sesudah itu ) tambah Beliau.
Selanjutnya Beliaupun menjadi lebih prihatin lagi dan terus lebih meningkatkan lagi mujahadah–mujahadahnya, berdepe – depe / lebih mendekat, memohon kehadirat Alloh SWT.
Dalam situasi batiniyah yang senantiasa mengarah kepada Alloh SWT wa Rosullihi SAW. Beliau mengarang suatu doa Sholawat

“ Kulo damel oret – oretan “ istilah Beliau,

Maka tersusunlah Sholawat :

“ALLOHUMMA KAMAA ANTA AHLU SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ALA SAYYIDINAA WA MAULAANAA WA SYAFII INAA WA HABIIBINAA WA QURROTI A’YUNINAA MUHAMMADIN SHOLALOHU ALAIHIWASALLAM KAMMA HUWA AHLU NAS ALUKALLOHUMMA BIHAQQIHI AN TUGHRIQONAA FIILUJJATI BAHRIL WAHDAH HATTA LAA NARO WALAA NAS MA’A WALAA NAJIDA WALAA NUHISSA WALAA NATAHARROKA WALAA NASKUNA ILLABIHAA WA TARZUQONAA TAMAA MA MAGFIROTIKA , WA TAMAA MA NI’MATIAKA, WA TAMAA MA MA’RIFATIKA , WA TAMAA MA MAHABBATIKA , WA TAMAA MA RIDLWAANIKA , WA SHOLLI WA SALLIM WABAARIK ALAIHI WA ‘ALAA ALIHII WA SHOHBIH ‘ADADAMAA AHATOBIHI ILMUKAA WA AHSHOHU KITAABUK BIROHMATIKA YA ARHAMAR ROHIMIIN WALHAMDU LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIIN “ (Pada saat itui belum ada tambahan kalimat YAA ALLOH setelah WA TAMAA MA – red). Yang baru lahir dari kandungan batiniyah yang bergemetar dengan frekwensi tinggi kepada Alloh wa Rosulihi SAW, batiniyah yang di kerumui dengan rasa tanggung jawab dan prihatin memikirkan umat dan masyarakat itu.

Di suruh mencoba untuk diamalkan oleh beberapa orang yang dekat dengan Beliau pada waktu itu, jika tidak keliru ada tiga orang yang Beliau sebut sebagai pengamal percobaan, yakni Bapak Abdul Jalil ( Almarhum ), termasuk tokoh tua dari desa Jamsaren kota Kediri. kemudian saudara Mukhtar, pedagang dari desa Bandar Kidul Kediri dan saudara Dahlan santri dari Demak semarang ( pada waktu itu masih remaja ).
Alhamdulillah ketiga – tiganya melaporkan bahwa setelah mengamalkan “ALLOHUMMA KAMAA ANTA AHLU … “ di karuniai rasa tentram dalam hati, tidak Ngoso – ongso dan lebih banyak ingat kepada Alloh SWT. selanjutnya di coba lagi beberapa santri di suruh mengamalkan dan hasilnya Alhamdulillah juga sama seperti yang di alami oleh tiga orang tersebut diatas dan kemudian Sholawat “ ALLOHUMMA KAMAA ANTA AHLU … “ ini disebut “SHOLAWAT MA’RIFAT “.

Untuk tabarukan, Mari kita membaca Surat Al-Fatihah satu kali dan Sholawat Ma’rifat yang sudah ada tambahan kalimat YAA ALLOH.. satu kali.

Al–Fatihah ……… 1x.

“ ALLOHUMMA KAMAA ANTA AHLU, SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ALA SAYYIDINAA WA MAULAANAA WA SYAFII INAA WA HABIIBINAA WA QURROTI A’YUNINAA MUHAMMADIN SHOLALOHU ALAIHIWASALLAM KAMMA HUWA AHLU NAS ALUKALLOHUMMA BIHAQQIHI AN TUGHRIQONAA FIILUJJATI BAHRIL WAHDAH HATTA LAA NARO WALAA NAS MA’A WALAA NAJIDA WALAA NUHISSA WALAA NATAHARROKA WALAA NASKUNA ILLABIHAA WA TARZUQONAA TAMAA MA MAGFIROTIKA YAA ALLOOH, WA TAMAA MA NI’MATIAKA YAA ALLOH, WA TAMAA MA MA’RIFATIKA YAA ALLOOH, WA TAMAA MA MAHABBATIKA YAA ALLOH, WA TAMAA MA RIDLWAANIKA YAA ALLOH, WA SHOLLI WA SALLIM WABAARIK ALAIHI WA ‘ALAA ALIHII WA SHOHBIH ‘ADADAMAA AHATOBIHI ILMUKAA WA AHSHOHU KITAABUK BIROHMATIKA YA ARHAMAR ROHIMIIN WALHAMDU LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIIN “.

Beberapa waktu kemudian tersusun lagi oleh Beliau, Sholawat yang pertama dalam lembaran wahidiyah Yaitu:

“ALLOHUMMA YAA WAAHIDU YAA AHAD, YAA WAJIDU YAA JAWAAD, SHOLI WASALLIM WA BAARIK ‘ALA SAYYIDINAA MUHAMMMADIW WA ALA ‘ALA ALI SAYYIDINA MUHAMMADFII KULLILAMHATIW WANAFASIM BI ‘ADADI MA’LUUMAATILLAHI WA FUYUDLOTIHI WA AMDADIH “.

Sholawat ini di coba diamalkan oleh beberapa orang dan alhamdulillah hasilnya lebih positif lagi yaitu dikaruania oleh Alloh SWT ketenangan batin yang lebih mantap. Berturut – turut santri pondok Kedunglo banyak yang mengamalkanya.
Dan sementara itu Sholawat “ALLOHUMMA YAA WAAHIDU… “ ini mulai di ijazah secara umum. Tamu – tamu yang berziarah kepada Beliau Mbah Yahi QS wa RA. diberi ijazah untuk mengamalkan Sholawat ini, di samping itu beliau menyuruh untuk menulis Sholawat ini kepada beberapa santri, yang selanjutnya tulisan itu dikirim kepada para ulama / kyai yang di ketahui alamatnya dengan surat pengantar yang ditulis oleh beliau sendiri, agar bisa diamalkan oleh masyarakat setempat.

Sebegitu jauh tidak ada jawaban dari para ulama / Kyai yang di kirimi. Dari hari ke hari makin banyak orang yang datang minta diberi ijazah amalan Sholawat tersebut. Ijazah mengamalkan yang beliau berikan adalah ijazah muthlaq, artinya disamping diamalkan sendiri supaya ditularkan/disampaikan kepada orang lain.

Pada waktu itu Beliau Mbah Yahi QS wa RA. memberikan pengajian kitab Al-Hikam sebagai pengajian rutin seminggu sekali pada setiap malam jum’at yang diikuti oleh santri – santri kedunglo dan beberapa kyai di sekitar kota kediri. Pada suatu malam jum’at didalam majelis Pengajian Kitab Al Hikam tersebut dituliskan Sholawat Ma’rifat “ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLU …..” kemudian diterangkan oleh beliau dan di ijazahkan untuk diamalkan di samping Sholawat “ ALLOHUMMA YAA WAHIDU YAA AHAD ..…”

Seorang ulama dari Pagu Kediri yaitu bapak KH. Ridwan yang biasanya mengikuti Pengajian Al-Hikam di Kedunglo, ketika melihat tulisan Sholawat “ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLU …..” yang pertama kali dipapan tulis tersebut memandang dengan penuh keheranan dan ta’jub terhadap susunan bahasa Sholawat tersebut.

“ Sungguh luar biasa ampuhnya Sholawat ini “. Demikian kata-katanya sambil menggelengkan kepala.
Demikian seterusnya berjalan dari hari kehari makin lama orang yang minta ijazah SHOLAWAT WAHIDIYAH dan SHOLAWAT MA’RIFAT. Untuk memenuhi kebutuhan yang bertambah banyak itu, seorang Pengamal Sholawat Wahidiyah dari Tulung Agung yakni Bapak KH. Muthar yang juga ahli khot tulis arab, membuat Lembaran Sholawat Wahidiyah : “ ALLOHUMMA YAA WAHIDU YAA AHAD ..…” dan ALLOHUMMA KAMA ANTA AHLU …..” dengan distensil yang sangat sederhana atas biaya sendiri dan dibantu oleh beberapa orang pengamal Sholawat Wahidiyah dari Tulung Agung.

Pengajian kitab Al-Hikam diadakan setiap malam Jum’at itu kemudian atas usul dari pengikut pengajian yang pegawai, pengajian dirubah hari Minggu pagi hingga sekarang. Yang juga didahului dengan berjama’ah sembahyang tasbih dan Mujahadah Sholawat Wahidiyah. Adapun keterangan – keterang yang diberikan oleh beliau Mbah Yahi dalam mengulas Kitab Al-Hikam itu di intergrasikan dengan Kuliah Wahidiyah. Penjelasan dalam pengajian tersebut mengunakan istilah-istilah / kata-kata popular yang mudah dipahami dan mudah diterapkan dalam hati para pendengarnya.
Soal-soal yang prinsip dan paling pokok bagi kehidupan manusia meliputi bidang ahlaq, tauhid, bidang mental, adab, bidang kemasyarakatan diuraikan dengan contoh-contoh dan dengan I’tibar-I’tibar yang mudah difahami. Sehingga mudah diterapkan dalam hati sanubari para pengikut pengajian . penguraian Ajaran-ajaran Wahidiyah seperti LILLAH-BILLAH dan sebagainya disajikan dengan sistimatis, sepadan dengan situasi dan kondisi para pengikut pengajian . Contoh-contoh diambilkan dari pengalaman –pengalaman hidup sehari -hari didalam masyarakat.

Di saat Beliau menerangkan soal hakekat wujud, ketika sampai pengertian dan pengetrapan “BIHAQIQOTIL MUHAMMADIYYAH“. dikemudian hari disempurnakan dengan penerapan LIRROSUL –BIRROSUL, tersusun pulalah Sholawat yang ketiga yaitu : “YAA SYAFI’AL KHOLQIS SHOLATU WASSALAM……” Yang dalam pengamalannya dirangkaikan menjadi satu rangkaiaan amalan yang didahului dengan bacaan Al Fatihah bagi Junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, dan bagi beliau Ghoutsi Hadzaz Zaman dan seterusnya..

Untuk tabarrukan mari kita membaca : AL FATIHAH ………1X

YAA SYAFI’AL KHOLQIS SHOLATU WASSALAM, ‘ALAIKAN NUUROL KHOLQI HAADIAL ANAAM.
WA ASHLAHU WA RUUHAHU ADRIKNII, FAQOD DZOLAMTU ABADAU WA ROBBINI
WA LAISA LII YAA SAYYIDII SIWAAKA, FA-IN TARUDDA KUNTU SYAHKSHON HAALIKA.

Rangkaian ketiga Sholawat termasuk Al-Fatihahnya, disebut atau diberi nama “SHOLAWAT WAHIDIYAH “.Kata Wahidiyah diambil dan ditabarrukkan (mengambil barokah ) dari salah satu Asma’ul A’dzom yang didapat didalam Sholawat yang pertama yaitu “WAAHIDU“ yang berarti “SATU”.
Satu, tidak terpisa-pisah lagi.Mutlaq satu,aslamtu wa abadan.Satu tidak seperti satunya makluq. Diantara khowasnya “WAAHIDU, seperti disebutkan dalam kitab Sa’adatud Daroini, Rosulullah SAW bersabda yang artinya kurang lebih “AL WAAHIDU”, termasuk Asma Allah yang agung (Asma’ul A’dzom ) yang barang siapa berdo’a dengan kalimah itu,diijabahi”.

Para ahli mengatakan : “bahwa diantara khowasnya (manfa’atnya) AL WAAHIDU, yaitu menyembuhkan rasa kebingungan,rasa sumpek, rasa gelisah dan kesusahan “. Barangsiapa membacanya dengan sepenuh hati hudlu’, sebanyak 1000 kali, maka dia dikaruniai Allah SWT tidak mempunyai rasa takut dan khawatir kepada makhluk,dimana takut kepada makluk itu adalah sumber daripada balak bencana di dunia dan akhirat. Dia hanya takut kepada Allah dan tidak takut kepada selain Allah SWT.

Pada kira-kira akhir tahun1963 diadakan pertemuan silaturrahmi antara para tokoh dan ulama’/ kyai yang sudah mengamalkan Sholawat Wahidiyah,dari daerah Kediri, Tulungagung, Blitar, Jombang dan Mojokerto, bertempat di Mushola Bapak K.H. Abdul Djalil (almarhum) Jamsaren Kediri. Pertemuan silaturrahmi tersebut langsung dipimpin oleh Hadrotul Mukarrom Mbah Yahi sendiri.
Diantara hasil musyawaroh tersebut ialah susunan redaksi kata-kata yang kemudian ditulis di dalam lembaran-lembaran Sholawat Wahidiyah, sebagai petunjuk cara pengamalan Sholawat Wahidiyah termasuk kata-lata Jaminan / garansi,yang Insya Allah redaksi asli dari para “Jaminan“ termasuk diusulkan oleh Hadrotul Mukarrom Mbah Yahi sendiri didalam musyawarah tersebut dan disetujui. (periksa Lembaran Sholawat Wahidiyyah Th. 1964 terlampir).

Kemudian pada awal tahun 1964 menjelang peringatan yang pertama dalam bulan Muharrom tahun tersebut, seorang Pengamal Sholawat Wahidiyyah dari Surabaya yakni Bapak K.H .Mahfudz dari Ampel Surabaya dengan dibantu beberapa kawan, mengusahakan klise Sholawat Wahidiyyah yang pertama dan mencetaknya sekali sebanyak kurang lebih dua ribu lima ratus lembar diatas kertas HVS putih atas biaya almarhumah Ibu Hj. Nur AGN Surabaya.

Pada tahun 1964 sesudah peringatan ulang tahun Sholawat Wahidiyah yang pertama diadakan Asrama Wahidiyah di Kedonglo dan diikuti tokoh-tokoh dan para Kyai yang sudah menerima Sholawat Wahidiyah,dari daerah Kediri, Madiun, Tulung Agung, Blitar, Malang, Jombang, Mojokerto dan Surabaya. Asrama diadakan selama tujuh hari tujuh malam , dan kuliah-kuliah Wahidiyah langsung diberikan oleh Hadrotul Mukarrom Mbah Yahi QS wa RA sendiri. didalam asrama itulah lahirnya kalimat nida’ :

” YAA SAYYIDII YAA RASULALLAH ”

Sebagai pelengkap untuk menyempurnakan dan meningkatkan amalan Sholawat Wahidiyah yang sudah ada maka didalam lembaran Sholawat Wahidiyah pun kemudian ditambahkan kalimat tersebut.
Pada awal kira – kira tahun 1965. ketika Beliau menerangkan hal-hal mengenai Ghoutsu Hadzaz Zaman RA. didalam kuliah Beliau ketika asrama Wahidiyyah yang kedua atau yang ke tiga di Kedonglo, lahirlah dari kandungannya :

YAA AYYUHAL – GHOUTSU SALAMULLAH
‘ALAIKA ROBBINII BI – IDZNILLAAH.
WANDUR ILAIYYA SAYYIDI BINADHROH
MUUSHILATI L-LIL-HADROTI ‘ALIYYAH

Suatu jembatan emas yang menghubungkan tepi jurang pertahanan nafsu di suatu fihak dan tepi kebahagiaan kesadaran kepada Allah wa Rosulihi saw,dilain fihak.sebagian pengamal Sholawat Wahidiyah menyebut “ISTIGHOSAH” dalam Wahidiyyah.

Istighosah ini tidak langsung dicantumkan kedalam rangkaian sholawat wahidiyah dalam lembaran-lembaran yang diedarkan kepada masyarakat, tetapi dianjurkan banyak diamalkan oleh mereka yang sudah agak lama mengamalkan Sholawat Wahidiyah, terutama dalam mujahadah-mujahadah khusus.
Begitu juga dalam kalimat nida’ “FAFIRRUU ILALLOH” pada waktu itu belum dicantumkan dalam rangkaian pengamalan Sholawat Wahidiyyah, tetapi dibaca bersama-sama oleh imam dan makmum pada akhir tiap-tiap do’a. dan pada waktu itu “WAQUL JAA-AL HAQQU WAZAHAQOL BAATIL INNAL BAATHILA KANNAA ZAHUQOO” juga belum dijadikan rangkaian dengan “FAFIRRUU ILALLOH” seperti sekarang, tentulah ini suatu kebijaksanaan yang mengandung bermacam hikmah dan sirri-sirri yang kita tidak mampu menguraikannya atau tegasnya tidak mengetahuinya.

Demikianlah dalam masa-masa sesudah tahun 1965, beberapa waktu lamanya “LEMBARAN SHOLAWAT WAHIDIYYAH” yang diedarkan kepada masyrakat tetap seperti semula yaitu sampai pada “YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH”.
Perhatian masyarakat makin hari makin terus bertambah terhadap Sholawat Wahidiyah. Permintaan-permintaan Lembaran Sholawat Wahidiyah makin bertambah, sekalipun disana sini ada sebagian masyarakat yang tidak mau menerimanya dan bahkan memberikan reaksi terhadap Sholawat Wahidiyah. Kontras begini begitu terhadap Sholawat Wahidiyah tersebut, ternyata memang merupakan saluran tarbiyah terhadap peningkatan kesadaran kepada Alloh wa Rosulihi SAW.

Suatu ketika pernah wakil pengamal dari suatu daerah melaporkan kepada Beliau Mbah Yahi, bahwa didaerahnya terjadi pengontrasan yang sangat agresif, dengan ramah dan senyuman Beliau paring jawaban:

“ Mestinipun kito rak matur kasuwun dateng mereka , jalaran kito lajeng mindak/mempeng anggen kito Mujahadah.” ( Mestinya kitakan harus berterima kasih kepada mereka, sebab menjadi makin giat kita bermujahadah! ).

Didalam suatu kuliah Wahidiyah yang pernah Beliau Hadrotul Mukarrom Mbah Yahi QS wa RA di dalam suatu Mujahadah Kubro sesudah tahun 1970, Beliau memberikan suatu pandangan sikap perjuangan Wahidiyah terhadap adanya Kontras-kontras bahwa para kontras itu sesungguhnya besar sekali jasanya terhadap Wahidiyah. Mereka–mereka itu adalah

“ KAWAN SETIA DALAM PERJUANGAN WAHIDIYAH “

yang harus kita syukuri..
YAA ROBBANALLOHUMMA SHOLLI SALLIMI, ALA MUHAMMADIN SYAFI’IL UMAMI
WAL ALI WAJ’ALIL ANAAMA MUSRI’IN, BIL WAAHIDIYYAT LIROBBIL ‘ALAMIIN
YAA ROBBANAGHFIR YASSIRIFTAH WAHDINAA, QORRIB WA ALLIF BAINANAA YAA ROBBANAA.

Kemudian menjelang tahun 1971 Menjelang Pemilihan Umum dinegara kita, di tambah lagi dengan:
YAA SYAFI ‘AL – KHOLQI HABIIBALLOHI, SHOLAATUHU ‘ALAIKA MA’ SAALAMIHI
DLOLLAT WA DLOLLAT HILATI FII BALDATII, KHUDZ BIYADII YAA SAYYIDI WAL UMMATI.

Demikian berturut-turut semakin hari semakin disempurnakan, seirama dengan Peningkatan Ajaran Wahidiyah yang di berikan oleh Beliau Hadrotul Mukarrom Mbah Yahi QS wa RA. kepada kita dan sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi di dalam masyarakat ummat manusia baik didalam maupun di luar negeri.

Pada tahun 1972 dilengkapi dengan do’a permohonan:
“ALLAHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WA HADZIHIL BALDAH “

Tahun 1973 doa :

“ BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIIM “ALLHUMMA BIHAQQISMIKAL A’DHOM WA BI JAAHI SAYYIDINAA MUHAMMADSHOLALLOHU ‘ALAIHI WASLLAM WA BIBAROKATI GHOUTSI HADZAZ ZAMAN WA AWAANIHIWA SAAIRI AULIUYAA IKA YAA ALLOH YAA ALLOH YAA ALLOH RODHIYALLOHU TA’ALA ‘ANHUM …3X,
BALLIGH JAMII’AL ‘ALAMIIN NIDA ANAA HADZ WAJ’AL FIIHI TAKTSIIROM BALIIGHO …3X,
FA INNAKA ‘ALAA KULLI SYA’IN QODIR WA BIL IJAABATI JADIIR …3X.

FAFIRRUU ILALLOOH !.

WAQUL JAA AL HAQQU WAZA HAQOL BATHIL INNAL BAATHILA KANA ZAHUUQO !.

Ditambah dengan nida’ “FAFIRRUU ILALLOOH “ dengan berdiri menghadap keempat penjuru arah mata angin.

Tahun 1978 dilengkapi dengan do’a:
“ALLAHUMMA BAARIK FII HADZIHIL MUJAHADAH YAA ALLOH “

Tahun 1980 dalam Sholawat Ma’rifat di waktu pembaca sudah sampai pada “WA TARZUQONAA TAMAA MA MAGFIROTIKA” di tambah “YAA ALLOH” demikian juga “WA TAMAA MA NI’MATIAKA”, dan seterusnya sampai dengan WA TAMAA MA RIDLWAANIKA di tambah “YAA ALLOH”.

Pada tahun 1981 do’a “ALLAHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WA HADZIHIL BALDAH” di tambah “YAA ALLOH”. Dan do’a “ALLAHUMMA WA FII HADZIHIL MUJAHADAH YAA Alloh” menjadi “ WA FII HAADZIHIL MUJAHADAH YAA ALLOH “.

Sehingga menjadi rangkian do’a:
“ALLAHUMMA BAARIK FIIMAA KHOLAQTA WA HADZIHIL BALDAH YAA ALLOH WA FII HADZIHIL MUJAHADAH YAA ALLOH”.

Pada tanggal 27 Jumadil akhir 1401 H atau tanggal 2 Mei 1981 Lembaran Sholawat WAhidiyah yang di tulis dengan huruf Al-Qur’an itu di perbaharui , sehingga menjadi seperti yang dapat kita lihat sampai sekarang ini .

Demikian secara kronologi / urutan lahirnya amalan Sholawat Wahidiyah yang mengalami penyempurnaan di setiap periode. Dari masing-masing penyempurnaan itu, sudah barang tentu memiliki sirri-sirri yang kita sekalian tidak mengetahui maknanya, hanya kadang-kadang ada beberapa pengamal ditunjukan secara bathiniyah sirri-sirri itu.
Disamping itu penyempurnaan dari seluruh pengamalan Ajaran Wahidiyah, seirama dengan peningkatan Ajaran Wahidiyah yang diberikan Beliau pada kita dan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi di dalam masyarakat, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Semoga Alloh SWT memberikan barokah terhadap Sholawat Wahidiyah dan memberiakan balasan yang sebanyak – banyaknya kepada Beliau Mu’allifnya, Hadrotul Mukarrom Mbah K.H. Abdul Madjid Ma’roef QS wa RA. ila yaumil Qiyaamah.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin..!!
  

Rabu, 19 Oktober 2011

Biografi : Internasional, Tokoh Agama, Tokoh Islam  
Imam Bukhari adalah ahli hadits (perowi = periwayat) yang sangat terpercaya dalam ilmu hadits. Hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya. Ia lahir di Bukhara pada bulan Syawal tahun 194 H. Dipanggil dengan Abu Abdillah. Nama lengkap beliau Muhammmad bin Islmail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Beliau digelari Al Imam Al Hafizh, dan lebih dikenal dengan sebutan Al Imam Al Bukhari.

Biografi Imam Bukhari dari Google Biografi

Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.

Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam.
Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.

Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim.
Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.

Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari, pent.)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.
Anugerah Allah kepada Al Imam Al Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang hidup sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) terhadap beliau. Berikut ini adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud:

Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Saya mendengar Ibrahim bin Khalid Al Marwazi berkata, “Saya melihat Abu Ammar Al Husein bin Harits memuji Abu Abdillah Al Bukhari, lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Seolah-olah dia diciptakan oleh Allah hanya untuk hadits”.
Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Saya tidak pernah meliahat di kolong langit seseorang yang lebih mengetahui dan lebih kuat hafalannya tentang hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dari pada Muhammad bin Ismail (Al Bukhari).”Muhammad bin Abi Hatim berkata, “ Saya mendengar Abu Abdillah (Al Imam Al Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr bin ‘Ali Al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadits tersebut”. Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceriterakan peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.

Penelitian Hadits


Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hafal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/pembawa) hadits itu tepercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami'al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim.

2. Karya


Karya Imam Bukhari antara lain:


Al-Jami' ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari
Al-Adab al-Mufrad
Adh-Dhu'afa ash-Shaghir
At-Tarikh ash-Shaghir
At-Tarikh al-Ausath
At-Tarikh al-Kabir
At-Tafsir al-Kabir
Al-Musnad al-Kabir
Kazaya Shahabah wa Tabi'in
Kitab al-Ilal
Raf'ul Yadain fi ash-Shalah
Birr al-Walidain
Kitab ad-Du'afa
Asami ash-Shahabah
Al-Hibah
Khalq Af'al al-Ibad
Al-Kuna
Al-Qira'ah Khalf al-Imam

Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain Ali ibn Al Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, Muhammad ibn Yusuf Al Faryabi, Maki ibn Ibrahim Al Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al Baykandi dan ibn Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi. Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada Perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri dari hal itu" sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan "Haditsnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Dia berkata "Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali; ke Basrah empat kali, menetap di Hijaz selama enam tahun, dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits."

Di sela-sela kesibukannya sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir. Bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran. Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah –ed) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, “ Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”. Karya Al Imam Al Bukhari yang lain yang terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau menyusun kitab Al Adab Al Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab Khalqu Af’aal Al Ibaad.

Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan.
Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Al Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing orang lain).”
Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan”.
Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.”

Al Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “Hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!”
Al Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fithri tahun 256 H. ketika beliau mencapai usia enam puluh dua tahun. Jenazah beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.

Selasa, 27 September 2011

 BIOGRAFI IMAM GHOZALI

A. Masa Hidup Imam Al- Ghazali
1. Tempat Kelahiran Imam Al- Ghazali
Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali, yang terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme yunani. Beliau lahir pada tahun 450 H, bertepatan dengan 1059 M di Ghazalah suatu kota kecil yang terlelak di Thus wilayah Khurasah yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia islam.[1]
Beliau dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana, ayahnya adalah seorang pengrajin wol sekaligus sebagai pedagang hasil tenunannya, dan taat beragama, mempunyai semangat keagamaan yang tinggi, seperti terlihat pada simpatiknya kepada ‘ulama dan mengharapkan anaknya menjadi ‘ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat.
Itulah sebabnya, ayahnya sebelum wafat menitipkan anaknya (imam al-Ghazali) dan saudarnya (Ahmad), ketika itu masih kecil dititipkan pada teman ayahnya, seorang ahli tasawuf untuk mendapatkan bimbingan dan didikan.[2]
Meskipun dibesarkan dalam keadaan keluarga yang sederhana tidak menjadikan beliau merasa rendah atau malas, justru beliau semangat dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, dikemudian beliau menjelma menjadi seorang ‘ulama besar dan seorang sufi. Dan diperkirakan imam Ghazali hidup dalam kesederhanaan sebagai seorang sufi sampai usia 15 tahun (450-456)[3]
2. Pendidikan dan Perjalanan Mencari Ilmu
Perjalanan imam Ghazali dalam memulai pendidikannya di wilayah kelahirannya. Kepada ayahnya beliau belajar Al-qur’an dan dasar-dasar ilmu keagamaan ynag lain, di lanjutkan di Thus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Setelah beliau belajar pada teman ayahnya (seorang ahli tasawuf), ketika beliau tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keduanya, beliau mengajarkan mereka masuk ke sekolah untuk memperoleh selain ilmu pengetahuan. Beliau mempelajari pokok islam (al-qur’an dan sunnah nabi).Diantara kitab-kitab hadist yang beliau pelajari, antara lain :
a. Shahih Bukhori, beliau belajar dari Abu Sahl Muhammad bin Abdullah Al Hafshi
b. Sunan Abi Daud, beliau belajar dari Al Hakim Abu Al Fath Al Hakimi
c. Maulid An Nabi, beliau belajar pada dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Khawani
d. Shahih Al Bukhari dan Shahih Al Muslim, beliau belajar dari Abu Al Fatyan ‘Umar Al Ru’asai.[4]
Begitu pula diantarnya bidang-bidang ilmu yang di kuasai imam al-Ghazli (ushul al din) ushul fiqh, mantiq, flsafat, dan tasawuf[5]
Santunan kehidupan sebagaimana lazimnya waktu beliau untuk belajar fiqh pada imam Kharamain, beliau dalam belajar bersungguh-sungguh sampai mahir dalam madzhab, khilaf (perbedaan pendapat), perdebatan, mantik, membaca hikmah, dan falsafah, imam Kharamain menyikapinya sebagai lautan yang luas.[6]
Setelah imam kharamain wafat kemudian beliau pergi ke Baghdad dan mengajar di Nizhamiyah. Beliau mengarang tentang madzhab kitab al-basith, al- wasith, al-wajiz, dan al- khulashoh. Dalam ushul fiqih beliau mengarang kitab al-mustasfa, kitab al- mankhul, bidayatul hidayah, al-ma’lud filkhilafiyah, syifaal alil fi bayani masa ilit dan kitab-kitab lain dalam berbagai fan.[7]
Antara tahun 465-470 H. imam Al-Ghazali belajar fiqih dan ilmu-ilmu dasar yang lain dari Ahmad Al- Radzaski di Thus, dan dari Abu Nasral Ismailli di Jurjan. Setelah imam al-Ghazali kembali ke Thus, dan selama 3 tahun di tempat kelahirannya, beliau mengaji ulang pelajaran di Jurjan sambil belajar tasawuf kekpada Yusuf Al Nassaj (w-487 H). pada tahun itu imam Al-Ghazali berkenalan dengan al-Juwaini dan memperoleh ilmu kalam dan mantiq. Menurut Abdul Ghofur itu Ismail Al- Farisi, imam al-Ghozali menjadi pembahas paling pintar di zamanya. Imam Haramain merasa bangga dengan pretasi muridnya.
Walaupun kemashuran telah diraih imam al Ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H. sebelum al Juwani wafat, beliau memperkenalkan imam al Ghazali kepada Nidzham Al Mulk, perdana mentri sultan Saljuk Malik Syah, Nidzham adalah pendiri madrasah al nidzhamiyah. Di Naisabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al Faldl Ibn Muhammad Ibn Ali Al Farmadi (w.477 H/1084 M).[8]
Setelah gurunya wafat, al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan ‘ulama. Dari perdebatan yang dimenengkan ini, namanya semakin populer dan disegani karena keluadan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 M, imam al Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidzhamiyah, ini dijelaskan salam bukunya al mungkiz min dahalal. Selama megajar di madrasah dengan tekunnya imam al Ghozali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al Farabi, Ibn Sina Ibn miskawih dan Ikhwan Al Shafa. Penguasaanya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya seperti al maqasid falsafah tuhaful al falasiyah.[9]
Pada tahun 488 H/1095 M, imam al Ghazali dilanda keraguan (skeptis) terhadap ilmu-ilmu yang dipelajarinya (hukum teologi dan filsafat). Keraguan pekerjaanya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehingga beliau menderita penyakit selama dua bulan dan sulit diobati. Karena itu, imam al Ghazali tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai guru besar di madrasah nidzhamiyah, yang akhirnya beliau meninggalkan Baghdad menuju kota Damaskus, selam kira-kira dua tahun imam al Ghazali di kota Damaskus beliau melakukan uzlah, riyadah, dan mujahadah. Kemudian beliau pihdah ke Bait al Maqdis Palestina untuk melakukan ibadah serupa. Sektelah itu tergerak hatinya untuk menunaikan ibadah haji dan menziarohi maqom Rosulullah Saw.[10]
Sepulang dari tanah suci, imam al Ghazali mengunjungi kota kelahirannya di Thus, disinilah beliau tetap berkhalwat dalam keadaan skeptis sampai berlangsung selama 10 tahun. Pada periode itulah beliau menulis karyanya yang terkenal ” ihya’ ‘ulumuddin al-din” the revival of the religious ( menghidupkan kembali ilmu agama).[11]
Karena disebabkan desakan pada madrasah nidzhamiyah di Naisabur tetapi berselang selam dua tahun. Kemudian beliau madrasah bagi para fuqoha dan jawiyah atau khanaqoh untuk para mustafifah. Di kota inilah (Thus) beliau wafat pada tahun 505 H / 1 desember 1111 M.[12]
Abul Fajar al-Jauzi dalam kitabnya al asabat ‘inda amanat mengatakn, Ahmad saudaranya imam al Ghazali berkata pada waktu shubuh, Abu Hamid berwudhu dan melakukan sholat, kemudian beliau berkata : Ambillah kain kafan untukku kemudian ia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan diatas kedua matanya, beliau berkata ” Aku mendengar dan taat untuk menemui Al Malik kemudian menjulurkan kakinya dan menghadap kiblat. Imam al Ghazali yag bergelar hujjatul islam itu meninggal dunia menjelang matahari terbit di kota kelahirannya (Thus) pada hari senin 14 Jumadil Akir 505 H (1111 M). Imam al Ghazali dimakamkan di Zhahir al Tabiran, ibu kota Thus.[13]
B. Guru dan Panutan Imam Al Ghazali
Imam al Ghazali dalam perjalanan menuntut ilmunya mempunyai banyak guru, diantaranya guru-guru imam Al Ghazali sebagai berikut :
1. Abu Sahl Muhammad Ibn Abdullah Al Hafsi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab shohih bukhori.
2. Abul Fath Al Hakimi At Thusi, beliau mengajar imam Al Ghozali dengan kitab sunan abi daud.
3. Abdullah Muhammad Bin Ahmad Al Khawari, beliau mengajar imam Ghazali dengan kitab maulid an nabi.
4. Abu Al Fatyan ‘Umar Al Ru’asi, beliau mengajar imam Al Ghazali dengan kitab shohih Bukhori dan shohih Muslim.[14]
Dengan demikian guru-guru imam Al Ghazali tidak hanya mengajar dalam bidang tasawuf saja, akan tetapi beliau juga mempunyai guru-guru dalam bidang lainnya, bahkan kebanyakan guru-guru beliau dalam bidang hadist.
C. Murid-Murid Imam Al Ghazali
Imam Al Ghazali mempunyai banyak murid, karena beliau mengajar di madrasah nidzhamiyah di Naisabur, diantara murid-murid beliau adalah :
1. Abu Thahir Ibrahim Ibn Muthahir Al- Syebbak Al Jurjani (w.513 H).
2. Abu Fath Ahmad Bin Ali Bin Muhammad Bin Burhan (474-518 H), semula beliau bermadzhab Hambali, kemudian setelah beliau belajar kepada imam Ghazali, beliau bermadzhab Syafi’i. Diantara karya-karya beliau al ausath, al wajiz, dan al wushul.
3. Abu Thalib, Abdul Karim Bin Ali Bin Abi Tholib Al Razi (w.522 H), beliau mampu menghafal kitab ihya’ ‘ulumuddin karya imam Ghazali. Disamping itu beliau juga mempelajari fiqh kepada imam Al Ghazali.
4. Abu Hasan Al Jamal Al Islam, Ali Bin Musalem Bin Muhammad Assalami (w.541 H). Karyanya ahkam al khanatsi.
5. Abu Mansur Said Bin Muhammad Umar (462-539 H), beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali sehingga menjadi ‘ulama besar di Baghdad.
6. Abu Al Hasan Sa’ad Al Khaer Bin Muhammad Bin Sahl Al Anshari Al Maghribi Al Andalusi (w.541 H). beliau belajar fiqh pada imam Ghozali di Baghdad.
7. Abu Said Muhammad Bin Yahya Bin Mansur Al Naisabur (476-584 H), beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali, diantara karya-karya beliau adalah al mukhit fi sarh al wasith fi masail, al khilaf.
8. Abu Abdullah Al Husain Bin Hasr Bin Muhammad (466-552 H), beliau belajar fiqh pada imam Al Ghazali. Diantar karya-karya beliau adalah minhaj al tauhid dan tahrim al ghibah.[15]
Dengan demikian imam al ghozali memiliki banyak murid. Diantara murid–murid beliau kebanyakan belajar fiqh. Bahkan diantara murid- murid beliau menjadi ulama besar dan pandai mengarang kitab.
D. Karya-Karya Imam Al Ghazali
Imam Al Ghozali termasuk penulis yang tidak terbandingkan lagi, kalau karya imam Al Ghazali diperkirakan mencapai 300 kitab, diantaranya adalah :
1. Maqhasid al falasifah (tujuan para filusuf), sebagai karangan yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafah.
2. Tahaful al falasifah (kekacauan pikiran para filusifi) buku ini dikarang sewaktu berada di Baghdad di kala jiwanya di landa keragu-raguan. Dalam buku ini Al Ghazali mengancam filsafat dan para filusuf dengan keras.
3. Miyar al ‘ilmi/miyar almi (kriteria ilmu-ilmu).
4. Ihya’ ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Kitab ini merupakan karyanya yang terbesar selama beberapa tahun ,dalam keadaan berpindah-pindah antara Damakus, Yerusalem, Hijaz, Dan Thus yang berisi panduan fiqih, tasawuf dan filsafat.
5. Al munqiz min al dhalal (penyelamat dari kesesatan) kitab ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai tuhan.
6. Al-ma’arif al-aqliyah (pengetahuan yang nasional)
7. Miskyat al anwar (lampu yang bersinar), kitab ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf.
8. Minhaj al abidin (jalan mengabdikan diri terhadap tuhan).
9. Al iqtishad fi al i’tiqod (moderisasi dalam aqidah).
10. Ayyuha al walad.
11. Al musytasyfa
12. Ilham al –awwam an ‘ilmal kalam.
13. Mizan al amal.
14. Akhlak al abros wa annajah min al asyhar (akhlak orang-orang baik dan kesalamatan dari kejahatan).
15. Assrar ilmu addin (rahasia ilmu agama).
16. Al washit (yang pertengahan) .
17. Al wajiz (yang ringkas).
18. Az-zariyah ilaa’ makarim asy syahi’ah (jalan menuju syariat yang mulia)
19. Al hibr al masbuq fi nashihoh al mutuk (barang logam mulia uraian tentang nasehat kepada para raja).
20. Al mankhul minta’liqoh al ushul (pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih).
21. Syifa al qolil fibayan alsyaban wa al mukhil wa masalik at ta’wil (obat orang dengki penjelasan tentang hal-hal samar serta cara-cara penglihatan).
22. Tarbiyatul aulad fi islam (pendidikan anak di dalam islam)
23. Tahzib al ushul (elaborasi terhadap ilmu ushul fiqiha).
24. Al ikhtishos fi al ‘itishod (kesederhanaan dalam beri’tiqod).
25. Yaaqut at ta’wil (permata ta’wil dalam menafsirkan al qur’an).[16]
BAB TAMBAHAN
KESETIAAN IMAM AL GHAZALI KEPADA GURUNYA.
Walupun kemashuran telah diraih imam al-ghazali beliau tetap setia terhadap gurunya dan tidak meninggalkannya sampai dengan wafatnya pada tahun 478 H. sebelum al-Juwami wafat, beliau memperkenalkan imam al-Ghazali kepada Nidham Al Mulk, perdana mentri sulatan Saljuk Malik Syah, Nidham adalah pendiri madrasah al- nidzamiyah. Di Nashabur ini imam al Ghazali sempat belajar tasawuf kepada Abu Ali Al Fadl Ibn Muhammad Ibn Ali Al Farmadi (w. 477 H/1084 M)[17]
Setelah gurunya wafat, Al Ghazali meninggalkan Naisabur menuju negri Askar untuk berjumpa dengan Nidzham Al Mulk. Di daerah ini beliau mendapat kehormatan untuk berdebat dengan para ‘ulama. Dari perdebatan yang dimenangkan ini, namanya semakin populer dan desegani karena keluasan ilmunya. Pada tahun 484 H/1091 M, imam al-Ghazali diangkat menjadi guru besar di madrasah Nidhzamiyah, ini dijelaskan dalam bukunya al mungkiz min al dahalal. Selama mengajar di madrasah dengan tekunnya imam al Ghazali mendalami filsafat secara otodidak, terutama pemikiran al Farabi, Ibn Sina Ibn Miskawih dan Ikhwan Al Shafa.penguasaanya terhadap filsafat terbukti dalam karyanya seperti Falsafah Tuhfatul Al Falasifah.[18]
Pada tahun 488 H / 1095 M, imam al Ghazali dilanda keraguan(ekeptis) trhadap ilmu-ilmu yang dipelajari(hukum teologi dan filsafat). Keraguan pekerjaannya dan karya-karya yang dihasilkannya, sehungga beliau menderita penyakit selam adua bulan

[1] Tim Penyusun Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, ( Jakarta : Van Hoeve Letiar Baru, 1997 ), cet. Ke 4, hal. 25
[2] Imam Al Ghazali, Pembuka Pintu Hati, ( Bandung : MQ Publishing, 2004), cet. 1, hal. 4
[3] Ibid, hal. 4
[4]Ibid, hal. 267
[5] M. Hasan, Perbandingan Madzhab, ( Jakarta : PT Raja Granfindo Persada, 2006 ) cet. Ke 4, hal. 267
[6] Himawijaya, Mengenal Al Ghazali Keraguan Adalah Awal Keyakinan, ( Bandung : Mizan Media Utama MMU, 2004 ), cet. Ke 1, hal. 15
[7] Hudari Bik, Tarikh Al Tasri Al Islam, ( Semarang : Darul Ihya, 1980 ), terj. Zuhri, hal. 570
[8] Himawijaya, Loc. Cit. hal.
[9] Ibid, hal. 17
[10] Ibid, hal. 19
[11] Ibid, hal. 19
[12] Imam Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, ( Beirut : Darul Ma’rifah, tth ), juz 1, hal. 7
[13] Imam Al Ghazali, Pembuka Pintu Hati, Loc. Cit, hal. 266
[14] M. Hasan, Perbandingan Madzhab, Loc. Cit. hal. 267
[15] M. Hasan, Perbandingan Madzhab, loc. Cit, hal. 268
[16] Hasyim Nasution, Filsafat Islam, ( Jakarta : Gaya Media Pratama, tth ), hal. 155